Gara-gara Corona, Dievakuasi dari Cina, Dikarantina di Natuna

KBRN, Malang: “Saya senang sekali selama karantina”. Kalimat inilah yang pertama kali diucapkan Muhammad Syaifuddin, mahasiswa S2 di Huazhong Agricultural University Wuhan, China yang dipulangkan pemerintah Indonesia pekan lalu. Bayangan seram masyarakat awam bahwa menjalani karantina epidemi virus corona adalah hal yang menyeramkan seperti di film-film ternyata tak terbukti. 

Selama 14 hari di Kepulauan Natuna,mahasiswa semester akhir yang akrab disapa Fudin ini justru menyebutnya sebagai masa observasi, apakah benar benar sehat atau ada indikasi terpapar virus corona. Dan baginya, masa observasi yang dianggap banyak orang akan membosankan ini, justru menjadi sebuah pengalaman yang mengasyikkan. Selama itu, Fudin dan 237 WNI lainnya yang juga diobservasi diberikan fasilitas yang sangat memadai, baik dari tempat tidur, hingga sarana kesehatan dan rekreasi.

Mereka ditempatkan di hanggar pesawat yang diberikan tenda dan tempat tidur yang cukup nyaman. Tidak hanya itu, pemerintah juga menyediakan berbagai macam game board, alat musik hingga peralatan karaoke lengkap agar mereka tidak mengalami kebosanan.

"Menjaga kesehatan mental ini ini sangat penting, karena kami akan kembali ke masyarakat, dan tentu saja dihadapkan pada kemungkinan stigma yang bisa jadi kurang baik untuk kami," tuturnya, Selasa (18/2/2020).

Ia mengungkapkan, setelah menjalani berbagai macam pemerikasaan dan observasi sejak 1 Februari 2020, seluruh WNI yang dievakuasi dinyatakan sehat dan bebas dari virus Corona. Akhirnya Fudin beserta rombongan Jawa timur yang berisi 62 orang tersebut, diterbangkan menuju Halim PerdanaKusumah, sebelum akhirnya tiba di Bandara Juanda pada Sabtu pukul 22.00 WIB. "Kedatangan kami langsung disambut oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Setelah itu kami dijemput oleh keluarga dan pulang menuju kota masing-masing," urainya.

Tercatat ada 6 warga Malang Raya yang dievakuasi dari Wuhan, 3 orang dari Kota Malang dan 3 lainnya dari Kabupaten Malang. Hal ini sekaligus meralat pemberitaan sebelumnya yang beredar yange menyatakan bahwa ada 7 warga Malang Raya yang dievakuasi. Sebab, satu orang lainnya merupakan warga Blitar.

Lantas, bagaimana kelanjutan studi Alumni Agroekoteknologi Fakultas Pertanian (FP) UB ini? Berdasarkan jadwal, seharusnya ia masuk kuliah mulai tanggal 17 Februari 2020, sehingga perkuliahannya saat ini menggunakan sistem online. Sejatinya, Fudin sendiri harus menjalani ujian pada Maret mendatang tetapi diundur menjadi bulan April. 

"Melihat kondisi darurat virus Corona yang diterapkan, akhirnya mahasiswa baik lokal maupun internasional harus menjalani perkuliahan sistem online hingga ada konfirmasi dari Pemerintahan Wuhan dan Pemerintah China bahwa kondisi disana aman dan kami bisa kembali ke Wuhan," tutur Fudin.

Fudin pun juga menceritakan tentang kondisi sesungguhnya di Wuhan, bahwa walau memang diterapkan darurat kesehatan dan diberlakukan lock down, tapi tidak semenyeramkan seperti pemberitaan media. Komunikasi dengan dunia luar dan akses terhadap kebutuhan pokokpun juga relatif mudah. “Saya masih bisa terus berkabar ke keluarga agar tak perlu khawatir, memang benar setelah lockdown kota menjadi sepi, tapi tidak sampai ada kejadian korban yang berjatuhan dan kejang di pinggir jalan”," ungkapnya.

Fudin beraggapan bahwa video yang beredar adalah video lama pada saat SARS menyerang sekian tahun lalu.  Meski kuliahnya harus terhambat dengan adanya virus Corona, namun Fudin justru mendapatkan sebuah pengalaman yang sangat berharga. Betapa pemerintah Indonesia berupaya maksimal dan bertanggung jawab dengan warga negaranya. Tidak hanya menyadari betapa sulitnya upaya memperjuangkan evakuasi tersebut, tetapi juga juga memastikan setiap warganya sampai di rumah dengan kondisi yang sebaik-baiknya. (Rulli Suprayugo/Pro2 RRI Malang)

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00