Nur Memilih Panggilan Hati Menjadi Orang Tua Asuh Anak Yatim

KBRN, Jakarta: Suasana hangat langsung terasa oleh kami, tim peliputan RRI ketika memasuki ruang depan Asrama Yatim & Dhuafa yang terletak di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu (22/2/2020) siang. 

Seorang wanita berjilbab kuning panjang yang tengah berbincang duduk, saling berhadapan dengan seorang pria dan wanita langsung bangkit menyapa kami ramah seraya mengucapkan salam.

"Assalamualaikum, silakan duduk dulu, Mas dan Mbak-mbak," kata wanita itu sambil menunjuk tiga kursi terdekat, meminta kami menunggu sejenak.

Jam dinding di hadapan kami menunjukkan pukul 14.12 WIB. Kami bertiga duduk saling bersisian. Sama-sama menyapu pandangan mengenali lingkungan yang baru kami sambangi hari ini. 

Sementara itu, wanita berjilbab tadi terdengar meminta dua orang di hadapannya yang rupanya sepasang suami dan istri yang masih berinteraksi dengannya untuk mengangkat  kedua tangannya seraya merapal doa. 

Rupanya, sepasang suami dan istri itu baru saja menyampaikan santunan untuk anak yatim yang ada di asrama ini.  Tak lama setelah wanita berjilbab mengantar tamunya pulang, ia menanyakan maksud kedatangan kami. 

Kami sampaikan tujuan mampir untuk berkenalan serta berbagi sedikit kebahagiaan untuk anak-anak yatim maupun dhuafa yang diasuh di sini, sambil melakukan peliputan dari tempat kami bekerja.

Lupa memperkenalkan dirinya, wanita itu langsung masuk ke dalam asrama untuk memanggil seseorang. Tak lama, keluarlah seorang pria mengenakan baju muslim panjang biru tua. Ia melempar senyum kepada kami sambil memperkenalkan diri.

"Assalamualaikum. Saya Pak Nur. Mau meliput katanya? Dari RRI ya, katanya tadi??" ucapnya dengan suara lembut.

Usai menunjukkan surat tugas sekaligus permohonan izin peliputan kepada Nur, ia bercerita lengkap mengenai asrama yang diasuhnya serta suka dukanya mengabdi dan berbagi cinta dengan penuh keikhlasan untuk anak-anak pantinya kepada RRI.

Panggilan Merawat Anak Yatim

Sambil membetulkan letak kopiahnya yang miring, Muhammad Nur (48), mengaku baru pertama kalinya diwawancara oleh wartawan. Ia mengatakan, sejujurnya kurang suka ditanya-tanya soal kehidupannya di Asrama Yatim dan Dhuafa serta mengenai anak-anak panti asuhannya. 

"Bukannya malu (kalau diwawancara), takutnya saya nangis nanti, hehe," katanya sambil menunduk malu. 

Mengawali penuturannya, pria yang tinggal di Cengkareng, Jakarta Barat ini mengungkapkan di asrama ini posisinya merupakan orang tua asuh bersama istrinya, bukan pemilik yayasannya.

“Kalau untuk jadi relawan yang pertama kami tanamkan adalah keikhlasan karena dulu saya dan istri bekerja lalu ada panggilan ingin merawat anak yatim, tapi belum bisa merawat di rumah. Ketika ada panggilan merawat anak yatim di yayasan, Insya Allah kami siap,” jelas Nur.

Ia menambahkan, selama menjadi relawan dirinya tidak menerima gaji. Menurutnya, sudah sepatutnya pekerjaan ini tidak mengharapkan imbalan materi karena bertujuan ibadah.

“Tentunya dengan ikhlas karena relawan dan relawati tidak ada gaji yang ada sekadar saja untuk honor dan bensin. Alhamdulillah untuk saat ini, saya sudah hampir empat tahun di sini,” tuturnya.

Lebih jauh, dirinya mengatakan asrama ini sudah ada sejak tahun 2006 dan telah memiliki cabang asrama lainnya di sejumlah wilayah ibukota.

“Berdiri dari tahun 2006 dan sampai saat ini kita sudah memikiki 18 asrama di berbagai cabang. Pusatnya ada di Meruya Utara. Dengan kerja sama donatur, infaq dan sadaqah alhamdulillah yayasan kami berkembang untuk terus maju ke depannya,” katanya.

Adapun untuk asrama yang diasuhnya di Gambir, ada sepuluh orang anak yang berasal dari kalangan yatim, piatu, yatim piatu maupun dhuafa. 

“Di sini ada 10 anak. Dirawat tiga orang, ada saya, istri saya dan satu orang lagi,” ucapnya.

Ragam Kisah Anak Asuh

Nur mengakui mengasuh sepuluh anak dengan karakter, serta latar belakang yang berbeda-beda tidaklah mudah. Namun, dirinya selalu berusaha berbagi kasih sayang secara adil.

“Alhamdulillah semuanya sudah kami rawat sejak kecil. Ada anak yatim dan piatu juga ada yang dari Jabodetabek dan ada juga yang dari daerah seperti Brebes dan Ciamis juga ada,” katanya.

Ia lalu bercerita bahwa latar belakang mereka beragam mulai dari yang orang tuanya tidak sanggup merawat karena terlalu banyak anak, tetapi kondisi ekonomi tidak mendukung hingga yang ditelantarkan.

“Ada (orang tuanya) yang memberitahu keadaannya yang punya 17 anak. Kalau yang terlantar pernah ada juga. Dia dari bayi kami temukan di atas gerobak ditinggal lalu diambil dirawat seminggu kemudian diambil lagi sama ibunya,” jelasnya.

Namun yang paling menyedihkan, menurut Nur adalah anak-anak asrama yang orang tuanya masih hidup namun sejak menitipkan anaknya sejak kecil kepadanya jarang, bahkan hampir tak pernah dijenguk.

“Disini ada yang jarang ditengok orang tuanya. Anaknya sekarang lagi sakit,” katanya sambil menahan tangis.

Nur lalu mengajak kami untuk bertemu anak-anak asuhannya. Belum kami menemui mereka, anak-anak yang kisaran usianya 4 hingga 11 tahun itu terlebih dahulu menghampiri dan menyalami kami. Mereka lalu mengajak kami ke ruang tengah tempat mereka bekumpul. 

Di ruang tengah yang tak terlalu luas itu terdapat kasur gelar kecil yang diatasnya ditiduri tiga orang anak yang pulas memejamkan matanya. 

Tampak papan tulis putih kecil terpasang di dindingnya yang bercat hijau muda. Enam anak lainnya lalu memperkenalkan diri masing-masing. 

Ada Fadlan yang usianya paling tua, Fauzan, Fuad, Zafis, Luthfi, Faris dan yang paling kecil, Rava berusia empat tahun dan belum sekolah. Kami mengajak mereka untuk makan fried chicken dan pizza yang sengaja dibawa untuk mereka. 

Tak perlu waktu lama untuk mereka mengakrabkan diri dengan kami. Selesai makan, mereka berebut untuk diwawancara karena tahu bakal direkam untuk ditayangkan menjadi berita. Anak yang antusias untuk diwawancara pertama adalah Zafis. 

Bocah berusia sembilan tahun itu bercerita dirinya saat ini kelas 4 SD. Ia mengungkapkan asrama tempatnya diasuh saat inilah yang membiayainya sekolah. 

Dengan lugu, Zafis mengaku kadang kala diomeli Nur yang dipanggil olehnya dan anak-anak lain dengan sebutan Abi bila nakal. Ia menyadari, omelan itu karena rasa sayang Nur kepadanya.

"Abi galak kalau saya nakal. Sebulan sekali orang tua saya suka nengokin ke sini. Pastinya selalu sayang saya sama orang tua saya," ucap bocah yang mengaku penggemar masakan sayur asem ini sambil berkaca-kaca. 

Selanjutnya Fuad (10) yang juga meminta diwawancara dan bercerita kalau dirinya memiliki cita-cita menjadi mujahid saat dewasa nanti. Ia mengaku suka menonton berita di layar kaca dan berdiskusi soal isu yang sedang ramai menjadi sorotan pemberitaan bersama Nur, salah satunya mengenai wabah virus korona.

"Virus korona penyebabnya karena makan makanan yang haram. Makanya, kita nggak boleh makan makanan haram, bikin penyakit sama dosa," katanya dengan gaya jenaka. 

Sementara itu, Fadlan (11) yang juga meminta diwawancara oleh kami mengatakan saat ini dirinya sudah menginjak kelas 6 SD dan sehari-hari berangkat sekolah di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat dengan menumpangi bajaj. 

"Kalau lagi libur, sama semuanya yang ada di sini sepedaan ke belakang lewat Tanah Abang juga. Orang tua kalau nengokin ke sini jarang, tapi nggak apa-apa," ucapnya. 

Di tengah interaksi dengan anak-anak asrama, tiba-tiba Nur mendatangi kami. Suara adzan Ashar terdengar. Ia mengajak anak-anak asuhannya untuk segera mengambil air wudlu dan melaksanakan ibadah salat. 

Tiga anak yang tidur pun dibangunkan oleh Nur.

Sontak berbondong-bondong anak-anak asrama langsung berganti pakaian dari kaos oblong dengan baju Muslim masing-masing. 

Kami ikut salat berjamaah dan berdoa bersama. Selepas salat, kami berpamitan dengan mereka. Tampak ekspresi ketidakrelaan pertemuan menyenangkan ini berakhir. 

Nur dan anak-anak asrama menyampaikan ucapan terima kasih atas kedatangan kami dan makanan yang dibawa untuk mereka. Kami berjanji akan datang untuk menemui mereka dan kembali bermain bersama. 

Menutup perjumpaan, Nur dan anak-anak asuhnya berdiri lalu menyampaikan salam perpisahan dengan menyerukan slogan motivasi mereka.

"Santri Panti Yatim Dhuafa, taqwa cerdas dan mandiri. Yes!," seru Nur dan anak-anak asuhannya serempak sambil melambaikan tangan. 

Perhatian dari Pemerintah

Sebelum kami minta diri, Nur pun bercerita soal sejauh mana perhatian pemerintah kepada asrama panti yang diasuhnya. Perlu diketahui, melalui pasal 34 dalam Undang-Undang Dasar 1945 negara menjamin untuk bertanggung jawab memelihara fakir miskin dan anak terlantar di negeri ini.

Adapun dalam UUD 1945 pasal 34 ayat 1 dan 2 berbunyi:

1)   Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara.

2)   Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh    rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.

Selaras dengan itu, Nur mengungkapkan sejauh ini sudah banyak instansi pemerintah yang memberikan bantuan untuk panti yang diasuhnya. Bahkan berbagai pejabat negara ada yang memberikan bantuan langsung dalam bentuk uang maupun barang.

Ia mengatakan, salah satu pejabat yang kerap menyampaikan bantuan ke Asrama Yatim dan Dhuafa adalah Ketum Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan putrinya, Puan Maharani sejak menjabat Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) hingga kini menduduki kursi Ketua DPR RI.

"Dari instansi ada banyak bantuan datang. Ada dari Kementerian Pertahanan, kemudian dari Ibu Puan Maharani dan Ibu Megawati semua panti rasanya (dibantu beliau berdua) bukan disini saja. Nggak datang orangnya (saat memberikan bantuan), tapi dititipkan orang (utusannya) disampaikan ke kami," jelasnya. 

Selain itu, Nur mengatakan ada juga beberapa kali bantuan datang dari mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla serta lembaga pemerintah dan perkantoran yang ada di sekitar lingkungan yayasan.

"Ada juga (bantuan) dari Pak Jusuf Kalla. Dari Bank Indonesia juga terus dari Bank Mandiri karena di sini kan, lingkungan kantor ya," ucapnya.

Dirinya pun menyampaikan ucapan terima kasih mendalam atas kepedulian pemerintah yang menunjukkan tanggung jawabnya terhadap anak-anak yatim dan terlantar di pantinya. 

Nur memanjatkan doa terbaik untuk mereka yang telah ikhlas memberikan bantuan tanpa melihat nominal materi yang diberikan, serta mengingatkan agar tak pernah berhenti untuk berbagi.

"Tentu kami berharap bisa sukses semua anak-anak di sini ke depannya. Tetap kami doa kepada Allah SWT. Kalau ditanya, ini panti milik siapa? Ini milik anak-anak di sini karena kita programnya ingin menjadikan mereka anak-anak yang taqwa, cerdas dan mandiri, " pungkasnya.

 (Foto: Mosita Dwi Septiasputri/El Hammi).

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00