Dialog Dalam Sepi

KBRN, Denpasar : Dari hari ke hari daya dukung Bumi sebagai penyangga kehidupan senantiasa mengalami penurunan, ibarat tubuh jika dipaksa seharian bekerja tanpa istirahat sejenak, tentu akan sakit.

Seperti itulah para leluhur mewariskan konsep luar biasa tentang pemeliharaan alam, melalui hari suci Nyepi yang mengikuti konsep tarian kosmis Siwa Natha Raja dengan Panca Kirtyas secara berkesinambungan atau dalam istilah Bali nemu gelang, yaitu: Tirobhawa (Melasti), Samhara (Tawur), Utpeti (Nyepi), Sthiti (Ngembak Geni), Pralina (kembali ke asal).

Umat Hindu di Bali memperingati Hari Suci Nyepi setiap tahun pada Penanggal apisan sasih Kedasa secara turun temurun dan untuk tahun ini Nyepi jatuh pada tanggal 25 Maret 2020.

Nyepi berasal dari kata “sepi”, “sipeng” yang berarti sepi, hening, sunyi, senyap.

Perayaan Tahun Baru umumnya identik dengan gemerlapnya pesta dan kemeriahan, euforia dan hura-hura, tetapi umat Hindu merayakan tahun Baru Saka dengan Sepi, Hening, Sunyi, Senyap.

Hari Suci Nyepi menjadi sangat spesial manakala umat Hindu mengungkapkan rasa syukur dan suka cita menyambut pergantian tahun baru Saka dengan cara sepi  atau hening melalui Catur Brata Penyepian yaitu: Amati Karya (tidak bekerja), Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Lelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang).

Jika dicermati, kontribusi Nyepi terhadap alam, sungguh luar biasa. Setahun sekali Bumi diberikan kesempatan bernafas tanpa polusi serta hiruk pikuk kegiatan manusia, bahkan masyarakat internasional pun mengakui dampak positif Nyepi dalam upaya pengendalian diri dan penyelamatan lingkungan.

Bahkan konsep Nyepi telah menginspirasi masyarakat dunia untuk gerakan hemat energi “World Silent Day” yang mengimbau masyarakat dunia untuk memadamkan listrik selama 4 jam setiap tanggal 21 Maret.

Nyepi telah dimaknai sebagai bagian dari gerakan peduli lingkungan yang lebih global.

Hari suci Nyepi identik dengan tradisi arak-arakan ogoh-ogoh, yang dilaksanakan sehari sebelum Nyepi pada Tileming sasih Kesanga yang dikenal dengan Pengerupukan

Ogoh-ogoh sebagai simbol prosesi menetralisir kekuatan-kekuatan negatif atau perwujudan Bhuta Kala.  Pada awal mula diciptakannya, ogoh-ogoh dibuat dari rangka kayu dan bambu sederhana namun seiring perkembangan jaman Ogoh-ogoh makin berinovasi, dibuat dengan rangka dari besi dirangkaikan dengan bambu yang dianyam.

Pembungkus badan ogoh-ogoh pun diganti dengan gabus atau stereofoam dengan teknik pengecatan. Namun berdasarkan permintaan dari sejumlah aktivis lingkungan dan berdasarkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 97 tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai yang terbit pada 21 Desember 2018, akhirnya penggunaan gabus atau Styrofoam dalam pembuatan ogoh-ogoh dilarang karena berdampak buruk bagi lingkungan dan tema yang diangkat harus sesuai dengan nilai-nilai agama Hindu, tidak sekedar mengeksploitasi bentuk gejala alam dan fenomena sosial yang terjadi di masyarakat saat ini.

Pelaksanaan Catur Brata Penyepian sesungguhnya merupakan momen penting untuk merenung, introspeksi diri, mengevaluasi diri serta mendekatkan diri dengan Sang Maha Pencipta.

Manakala kita mampu berdialog dengan diri sendiri dalam hening maka secara otomatis kita akan berpikir tentang orang lain di sekitar, memahami perasaan orang lain, lebih peka terhadap lingkungan sekitar, serta menyadari bagaimana perilaku kita berdampak  terhadap orang lain.

Melalui upaya perenungan diri di Hari Suci Nyepi dengan keheningan jiwa, pikiran dan perbuatan yang terkendali, diharapkan akan tercermin perilaku santun, arif dan bijaksana serta mampu mengembangkan sifat Parama Prema atau cinta kasih yang mendalam terhadap semua makhluk ciptaan Tuhan sesuai ajaran Tat Twam Asi (segala yang ada adalah Siwa) dan Vasudhaiva Kutumbakam (Kita adalah bersaudara).

Hal itu akan menuntun ke arah sadar diri, menghargai dan menghormati orang lain sehingga melalui kegiatan Dharma Shanti yang merupakan rangkaian akhir Nyepi akan terbangun kebersamaan, saling maaf memaafkan, menjaga tali silaturahmi untuk kualitas kehidupan yang lebih baik.

Oleh: Ni Nyoman Wirati

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00