Geliat Potensi Ekonomi "Ameh Hitam" di Kaki Marapi

KBRN, Bukittinggi : Pagi menunjukkan pukul sembilan, matahari masih tertutup awan di awal Maret. Gerimis menemani langkah kaki menelusuri jalan tanah  setapak  yang  di apit perkebunan masyarakat. Alat pengukur ketinggian mencatat, kami tengah berada pada ketinggian 1.350 MDPL di Nagari Lasi, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. 

Lasi, desa kecil ini berada di kaki Gunung Marapi, sekitar  dua belas kilometer dari pusat Kota Bukittinggi. Setelah lima ratus meter mendaki, di balik rimbunnya pepohonan kopi akhirnya langkah terhenti di sebuah rumah kayu sederhana yang terletak persis di ujung desa, seorang pria tua tersenyum ramah menyambut kedatangan kami di balik rerimbunan pohon pohon kopi, Jum'at (13/3/2020).

H. Nasril, begitu masyarakat sekitar menyapanya. Walau usia beliau sudah merambat senja tapi jangan tanya bagaimana semangatnya, apalagi kalau berbicara mengenai Kopi Lasi. Beliau adalah salah satu petani kopi yang cukup terkenal di daerah ini. Mulai menjadi petani kopi sejak tahun 2010 membuat beliau fasih bercerita tentang kopi Lasi yang sedang mencuri perhatian penikmat kopi saat ini. 

Kepada RRI H. Nasril menjelaskan, kopi Lasi ini berjenis Arabika, dengan varietas Kartika dan Katimor ditanam pada lahan di ketinggian 1.500 MDPL. Kopi jenis ini membutuhkan dua setengah tahun untuk berbuah sejak awal masa tanam. Rasanya  berbeda  dari kopi jenis lain karena dipenangaruhi oleh tanaman di sekitarnya. Kopi ini ada rasa asamnya, sedikit pahit, dan manis, tergantung dengan tanaman apa yang di tanam di sekitarnya.

"Seperti jeruk sehingga akan terasa sentuhan rasa asam dari jeruk saat kopi diseduh,” jelasnya.

Dalam proses pengeringannya, kopi Lasi tidak langsung terkena sinar matahari, karena menggunakan dome sebagai media pengering yang menyaring masuknya cahaya matahari secara langsung.  Untuk menghasilkan kopi yang baikpun ada teknik saat memetiknya. 

Hal ini mempengaruhi aroma serta kualitas kopi  yang jauh lebih baik. Tak heran ini lah yang mengantar kopi Lasi meraih peringkat ke tiga kategori kopi Arabica dalam Festival Kopi Sumatera Barat tahun 2017 dan  dibandrol dengan harga Rp. 120.000/ 250 gram.

"Kopi Arabika ini rasanya harus di pelihara sejak panen, jika kopi yang belum matang diambil kemudian  tercampur dengan kopi yang sudah matang akan merubah cita rasanya,” terang Haji Nasril. 

Kopi di Nagari Lasi sudah ada sejak zaman penjajahan kolonial Belanda, dan menjadi salah satu pemasok kopi untuk gudang-gudang kopi yang didirikan Belanda di Bukittinggi. Konon mereka menyebutnya "Ameh Hitam"  ( Emas Hitam) dari kaki Marapi. 

"Harapan saya sebagai petani kopi, hendaknya banyak masyarakat yang mengikuti. Semoga lahir petani kopi milenial yang membuat Kopi Lasi semakin terkenal, dan  usaha ini sangat menjanjikan secara ekonomi,” ungkapnya.

Seperti yang diceritakan  Camat Canduang Fauzi, Kopi di Lasi, sudah di tanam oleh Belanda  saat jaman penjajahan dan Lasi merupakan  sentra  produksi kopi besar  saat itu, sayang nya saat Belanda pergi mereka juga membabat batang-batang kopi yang ada di sini tanpa sisa. 

"Tak ada yang tau alasan mereka melakukan itu  dan sejak saat itu masyarakat sini terasing dari kopi Lasi,” imbuhnya.

Putusnya mata rantai kopi di Nagari Lasi  juga mempengaruhi pola pikir masyarakat sekitar. Jika di masa lalu para tetua mereka adalah petani kopi namun saat ini mereka seolah asing dengan tanaman ini dan beralih ke palawija. 

Hingga di tahun 2010 pemerintah dan beberapa warga mencoba untuk menghidupkan kembali pertanian kopi di nagari ini. Salah satu alasan menggalakkan kembali kopi Lasi ini, karena kopi Lasi menurut penelitian merupakan salah satu kopi dengan kualitas premium dan dapat kembali menjadi motor perekonomian masyarakat disini.

Namun usaha menggiatkan kembali pertanian kopi di Lasi bukan tanpa kendala, masyarakat masih enggan untuk bertani kopi, walaupun di 2015 pemerintah sudah memberikan bantuan berupa bibit dan penyuluhan. 

Masyarakat lebih memilih menanam palawija yang masa panennya cepat dan menekuni bidang pekerjaan lain. Hal ini sangat disayangkan oleh Elma Zahara , penyuluh pertanian di daerah ini. Menurutnya masalah yang krusial lemahnya motivasi masyarakat untuk bertani kopi, terutama usia produktif padahal prospek kedepan dari bertani kopi ini sangat menjanjikan, permintaan pasar sangat besar. 

"Rata-rata mereka beralasan, kopi lama panennya dan mereka butuh biaya untuk hidup sehari hari,” tuturnya.

Petani kopi Lasi saat ini bertani dengan cara tumpang sari. Mereka berharap hasil panen dari  tanaman palawija yang mereka tanam bisa menutupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Sebuah dilema tersendiri bagi para petani kopi di Lasi karena di satu sisi menanam kopi jenis Arabika tanpa perawatan yang maksimal. 

Hasilnya juga tidak akan optimal, Elma menambahkan, sistem tumpang sari akan mempengaruhi cita rasa kopi Arabika ini, karena tanaman tumpang sari biasanya menggunakan pupuk organik, sedangkan kopi jenis arabika tidak.

Harapan besar  menggantung agar kopi Lasi semakin berkibar  dan hasil produksinya dapat di nikmati seluruh masyarakat. Pemerintahpun mencoba memberikan berbagai terobosan agar minat masyarakat tergugah untuk bertani kopi. 

Berbagai solusi dan stimulasi dilakukan oleh berbagai pihak. Pemkab Agam memprogramkan kegiatan peningkatan kualitas petani dan kelompok tani melalui pembinaan dan bimbingan teknis, program pemberian bantuan bibit berkualitas dan peremajaan tanaman kopi, serta program pembinaan manajemen pemasaran, pengemasan produk dan jejaring kerjasama dengan berbagai pihak.

Diterangkan kembali Camat Canduang Fauzi, Pemerintah pusat juga menstimulan bantuan dari Kementian Pedesaan, PDT dan Transmigrasi RI sebesar Rp. 1,5 miliar dan sudah berjalan 90%. 

"Kita sudah membeli alat pengering kopi, pemecah cangkang kopi, serta gudang penyimpanan. Kami juga sudah menyalurkan 5.000 bibit kopi dan kami harap kedepannya dua tahun lagi sudah terlihat hasilnya, dan kami akan mencoba melakukan pengolahan lahan-lahan kosong milik masyarakat dengan sistem bagi hasil. Semoga ini juga menjadi penyemangat bagi masyarakat untuk menjadi petani kopi di sini,” tuturnya.

Satu persatu harapan terucap dari penggerak kopi Lasi, Nagari Lasi kembali menjadi sentra kopi di Sumatra Barat, seperti masa jayanya dulu. Optimisme itu berdasarkan tingginya permintaan pasar terhadap varietas kopi Lasi dan didukung potensi pengembangan kopi di Kabupaten Agam yang sangat menjanjikan, didukung iklim, suhu, ketinggian dan jenis tanah yang sangat ideal.

Matahari semakin meninggi, sayup suara khalam illahi di Surau Tuo membuat obrolan dengan H. Nasril serta  beberapa tokoh masyarakat Lasi yang berkumpul hari ini  harus diakhiri. 

Secangkir kopi panas yang disajikan di sela gerimis semakin menegaskan bahwa kopi ini memang layak untuk diperjuangkan. Beragam tantangan dan hambatan pengembangan potensi kopi, baik persoalan luas lahan existing dan jumlah petani yang masih sedikit. Sehingga belum mampu memenuhi permintaan pasar secara kuantitas, sementara secara kualitas proses produksi yang masih tradisional, serta teknik pemasaran yang semakin kompetitif, membuat adrenalin para petani kopi dan pemerintah setempat semakin terpacu  untuk terus berusaha agar Kopi Lasi kembali menjadi jawara. Kepulan asapnya seakan berbisik, jika mereka tak ingin hanya menjadi sebuah cerita Ameh Hitam di kaki Marapi yang berakhir legenda usang di masa depan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00