Senator Riri Dorong Dana Desa di Bengkulu Digunakan Untuk Pencegahan Covid 19

KBRN, Bengkulu : Hingga saat ini sudah ribuan orang yang tersebar di 31 Provinsi di Indonesia, dinyatakan positif Covid-19.

Bahkan Studi Centre for Mathematical Modelling of Infectious Diseases (CMMID) menyebutkan, angka tersebut sebenarnya jauh lebih banyak, karena masih adanya kasus-kasus yang tidak terlaporkan.

Anggota Komite II DPD RI Hj Riri Damayanti John Latief ketika menyikapi hal tersebut mengungkapkan, sesuai surat edaran Surat Edaran Nomor 8 Tahun 2020 tentang “Desa Tanggap Covid-19 dan Penegasan Padat Karya Tunai Desa” tertanggal 24 Maret 2020lalu, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI telah secara tegas, mengatur agar Dana Desa (DD) dapat dipergunakan untuk melawan virus corona di seluruh wilayah Indonesia.

"Ini kebijakan yang patut diapresiasi, karena memang sekarang situasinya di berbagai daerah sudah hampir masuk ke depan pintu krisis. Semua penggunaan DD maupun Kelurahan di Bengkulu, hendaknya dimaksimalkan dengan baik untuk melawan covid-19," kata Riri Damayanti, Jumat, (3/4/2020).

Selain itu Riri berharap, agar setiap desa dan kelurahan dapat mengelola penggunaan anggaran sesuai dengan standar penanganan covid-19, sebagaimana yang diatur dalam surat edaran kementerian tersebut.

"Prioritaskan untuk mereka yang miskin, mengalami kesulitan hidup, dan semua pedagang kecil yang betul-betul terpukul ekonominya dengan adanya kejadian pandemi covid-19 ini," ungkap Anggota Kaukus Perempuan Parlemen RI ini.

Lanjut Senator Bengkulu ini menjelaskan, sejak beberapa pekan terakhir, keluhan para pedagang kecil yang kehilangan penghasilan, karena pandemi covid-19 ini sudah cukup banyak ditampungnya.

Oleh karena itu diminta, maksimalkan fasilitas desa untuk tangani covid-19.

“Lalu siapkan tempat cuci tangan di tempat-tempat umum, lakukan penyemprotan disinfektan, cegah adanya kerumunan warga dalam satu titik, jalankan koordinasi secara rutin dengan Pemda, agar semuanya kompak,” tutup Riri.

Sementara data terhimpun, masih adanya fasilitas layanan kesehatan yang tidak mendukung penanganan covid-19 di kawasannya,diprediksi akan memicu ledakan pandemi corona di Indonesia bulan-bulan mendatang, terutama pada April hingga Juli 2020.

Dengan kondisi itu, Pemerintah kini kian gencar mensosalisasikan pentingnya jaga jarak sesuai perhitungan asisten profesor di Fakultas Kedokteran Universitas California Robert Signer, satu orang positif covid-19 yang tidak melakukan jaga jarak, bisa menyebabkan 406 orang lain terinfeksi pada hari ke-30.

Sebaliknya, jika yang bersangkutan mengurangi kontak fisik sebesar 50 persen, jumlah penularannya bisa turun menjadi 15 orang pada periode waktu yang sama.

Dibagian lain, Presiden Joko Widodo telah menetapkan status kedaruratan kesehatan masyarakat, untuk mengatasi pandemi covid-19 di Indonesia, dan memutuskan berlakunya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Belum lagi kabar mengejutkan datang dari Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo, membeberkan data Badan Intelijen Negara (BIN) bahwa penyebaran covid-19 akan mengalami puncak pada Juli 2020 dengan angka 106.287 kasus.

Hanya saja penambahan angka secara drastis itu, tidak akan terjadi bila masyarakat melakukan disiplin sosial dalam melakukan langkah-langkah pencegahan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00