Dinilai Rawan, KKP Dukung Bila Pelabuhan Baubau Ditutup Sementera

KBRN, Baubau : Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan(KKP) Kendari wilayah Baubau, dr. Ricki mengatakan mendukung bila ada kebijakan pemerintah daerah untuk menutup sementara aktivitas Pelabuhan Baubau selama 14 hari guna memutus rantai penyebaran virus Corona.

Menurutnya, penutupan sementara pelabuhan akan lebih aman sebab pelabuhan Baubau merupakan salah satu pelabuhan di Indonesia yang rutin disinggahi kapal-kapal Pelni dari wilayah Barat dan Timur Indonesia maupun kapal rakyat antar pulau sehingga sangat rawan terhadap penyebaran Virus Corona.

“Intinya pelabuhan distop dulu, sebab rawan. Karena timur sudah ada, barat sudah jelas. Jakarta, Surabaya, Makassar, Maluku, dan Papua dilewati semua yang sudah postif Corona dan itu lewat Baubau semua,” ujar Ricky saat diwawancarai RRI via telponnya, Rabu (25/3/2020).

Ditambah lagi kata dia, penumpang yang turun dari kapal selalu tidak mengindahkan imbauan pemerintah untuk menjaga jarak aman antar sesama dalam mencegah persebaran virus Corona.

“Jadi kesimpulan amannya itu, stob dulu lah(pelabuhan) menurut saya,” imbuhnya.

Ditanya soal alat thermal scanner dan penyemprotan disinfektan yang diterapkan kepada penumpang datang di Pelabuhan Baubau untuk mencegah dan mendeteksi penumpang terpapar Virus Corona menurut dr. Ricky, tidak efektif karena menyangkut masa inkubasi virus antara 2 sampai 14 hari.

‘Alat thermal scanner hanya sebatas untuk menjaring orang yang sudah menunjukkan gejala terjangkit seperti demam sehingga bisa diatasi lebih cepat. Sementara bagi warga yang terpapar namun belum menunjukkan gejala tidak dapat dideteksi melalui alat tersebut,”terangnya.

Karena itu menurut Ricky, tidak ada pilihan lain paling efektif selain menutup sementara aktivitas pelabuhan. Ditambah lagi menurutnya pihaknya sangat kekurangan tenaga, dengan jumlah hanya 10 orang, terdiri 3 security, 2 orang bertugas di Bandara Betoambari dan 5 orang di pelabuhan.

Dikatakannya, meski telah dibantu petugas dari Dinas Kesehatan, namun pihaknya tetap harus bekerja ekstra karena kapal yang sandar tidak mengenal waktu baik siang, malam, maupun waktu shubuh.

“Jujur saja kami dalam dua minggu terakhir ini kadang-kadang tidak tidur dalam sehari. Dan kami juga ketakutan dengan kondisi fisik kami sendiri,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00