Penerbangan Domestik Dibuka, Daerah Babak Belur

Ilustrasi penerbangan komersial (doc. istimewa)

KBRN, Belitung: Kebijakan Pemerintah Pusat membuka kembali penerbangan domestik dinilai membuat masalah baru di daerah.

Masalah tersebut terutama timbul dari masuknya penumpang ke satu daerah yang sebenarnya sudah dalam kondisi stabil dan berhasil menangani pandemi COVID-19 di daerahnya.

Kasus terpaparnya 2 (dua) penumpang pesawat NAM Air IN 056 Rute Cengkareng – Tanjungpandan (CGK – TJQ) pada tanggal 16 Mei 2020, di hari perdana mendaratnya pesawat komersil di Bandara H. AS Hanandjoeddin, Belitung menjadi salah satu contoh fakta yang terjadi akibat dibukanya akses bandara bagi penerbangan komersial.

Hal itu yang disesalkan Pemerintah Kabupaten Belitung, yang disampaikan Wakil Bupati Belitung, Isyak Meirobie kepada RRI, Sabtu (23/5/2020).

”Ketika sebuah regulasi diubah untuk penerbangan akibatnya fatal sekali buat daerah, jadi pusat buka (akses) yang babak belur daerah. Kan kasihan masyarakat di kampung, di daerah. Mereka menunggu momentum yang tepat untuk membangun dan memulihkan ekonominya, berharap cepat hijau,” ujarnya.

Wakil Bupati Belitung, Isyak Meirobie

Selain itu menurut Meirobie, dengan dibukanya akses penerbangan pada hari tersebut apalagi terbukti ada dua orang dalam penerbangan tersebut terkonfirmasi positif COVID-19, tentu ritme kerja dan upaya keras penanganan virus Corona yang tengah dilakukan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Kabupaten Belitung jadi sangat terganggu.

“Kalau pintu (bandara) dibuka terus kita belum sempat hijau seperti Belitung adalah fakta, kita baru hijau beberapa jam langsung merah lagi dalam hari yang sama, sore udah hijau, malam merah lagi ganti warna seperti bunglon. Waktu penerbangan tanggal 16 Mei itu kami tidak bisa menolak waktu itu, karena begitu mendadak. Tiba-tiba ada laporan, Pak dua hari lagi ada pesawat masuk,” ujar Meirobie.

Diterangkannya pula, bahwa penerbangan tanggal 16 Mei tersebut merupakan  yang membawa penumpang dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Pada hari-hari berikutnya Pemerintah Kabupaten Belitung tegas untuk menolak semua penerbangan komersial yang membawa penumpang masuk ke Pulau Belitung.

“Satu penerbangan tapi berakibat fatal. Tapi setelah tanggal 16 Mei itu sampai detik ini, gak ada lagi pesawat yang mengangkut penumpang dari Jakarta ke Belitung. Kalau kami gak ada lain, kami sudah minta ke maskapai jangan pernah angkut penumpang dari Jakarta ke Belitung, kecuali angkut kargo dan mengangkut penumpang dari Belitung ke Jakarta yang di PHK, dirumahkan, atau punya kepentingan khusus dari Belitung ke Jakarta, tapi rapid test nya juga kami pastikan valid dan kami meminta daerah yang menerima mereka menerapkan isolasi 14 hari,” terangnya.

Lebih lanjut ditambahkannya, Pemerintah Kabupaten Belitung akan tetap berpegang pada kebijakan yang diambil, yakni  tetap melarang masuknya pesawat yang mengangkut penumpang ke Pulau Belitung, karena hal tersebutlah yang bisa ditempuh untuk memutus rantai penyebaran virus Corona tersebut.

“Kita tidak akan pernah mau lagi kejadian seperti ini, resikonya besar sekali karena kalau kejadian maka pasti akan membentuk klaster-klaster baru yang cabang pohonnya kita tidak tahu sampai mana. Kita sudah hijau namun sekejap mata sirna, kita komit tidak akan pernah membuka akses penerbangan penumpang, dan fokus tunggu hasil tracking, rapid test dari kontak erat pasien-pasien positif ini, semoga hasilnya negatif semua,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00