Kegiatan Umat Beragama Tetap Dilakukan Di Tengah Merebaknya Virus Corona

EE2FCB2F-BAFB-412D-A297-CFABD742D3E9.jpeg

KBRN, Jakarta: Apa yang dilakukan sejumlah umat beragama dengan melaksanakan kegiatan secara massal dan berkerumum sungguh sangat disayangkan. Kondisi ini bukan saja mengabaikan himbauan pemerintah, tetapi justru menjadi media persebaran virus corona lebih massif. Para tokoh agama harusnya melihat fakta mengenai apa yg terjadi di Malaysia belum lama ini, tatkala berlangsung tabligh akbar. Ada ribuan orang hadir, termasuk beberapa ratus WNI. Dan seusai acara,  belasan WNI dipastikan positif virus Corona. Karena itu, apa yg dilakukan oleh umat beragama di Gowa Sulawesi Selatan, di Ruteng, Nusa Tenggara Timur, kemarin dan di Banjarmasin tadi malam, serta rencana di Bali pekan depan, perlu menjadi perhatian banyak pihak, khususnya pemuka agama itu sendiri, serta Pemerintah Pusat. Pertemuan besar, apapun namanya, termasuk pertemuan keagamaan, sangat potensi untuk menghadirkan super spreader, atau orang positif corona menjadi penyebar massif. Inilah yang sebenarnya dihindari.Virus Corona itu tidak ada obatnya sampai sekarang. Sehingga, hal paling mungkin adalah memutus jaringan penyebarannya. Idealnya, Pemerintah Indonesia melakukan lockdown atau penutupan seluruh area yang pernah kedapatan ada positif corona, seperti Jakarta, Depok, Solo, dan Semarang.Akan tetapi biaya sosial, politik dan ekonominya terlalu tinggi. Sebagai alternatifnya, pemerintah menerapkan kebijakan social distancing atau dalam bahasa sehari hari disebut menjaga jarak sosial.Komentar disusun dan disampaikan Redaktur Senior RRI, Widhie Kurniawan

00:00:00 / 00:00:00