Kartu Prakerja dan Mundurnya Stafsus Milenial Presiden

3B2C9FB2-7196-4D05-994C-E4F39BDFC5E0.jpeg
KBRN, Jakarta: Setelah salah seorang staf khusus Presiden Joko Widodo tersandung persoalan perusahaan mitra Kartu Prakerja, baru kemudian Kartu prakerja ini dibicarakan secara massif.  Banyak orang terkecoh soal kartu Prakerja, karena dianggap Kartu ini dapat digunakan untuk mendapatkan uang secara tunai. Ternyata kartu prakerja ini hanyalah sebuah tanda akses bagi para pengangguran atau orang yang masih aktif bekerja, tapi ingin meningkatkan kompetensi dirinya. Artinya, banyak orang salah kaprah soal Kartu Prakerja, sebab dipikir kalau mendaftar akan dapat bantuan uang tunai, padahal salah.  Presiden Joko Widodo sebenarnya sudah menyampaikan hal ini sejak bulan Desember akhir tahun lalu. Menurut Presiden, adalah salah bila ada anggapan, pemerintah akan membayar pengangguran dengan kartu prakerja. Menurut presiden, pemerintah hanya akan memfasilitasi mereka yang sedang tidak dalam pendidikan formal untuk mendapatkan akses peningkatan kapabilitas dan kompetensi. Pertanyannya, apakah ini efektif menekan jumlah pengangguran ataukah mampu meningkatkan peluang kerja ?  Jawabannya masih perlu waktu. Indiktornya belum jelas. Ini yang harus dikonkretisasi, apa ukuran keberhasilan program Kartu Prakerja..? Jangan lupa, anggaran untuk program ini 5.6 trilyun rupiah. Angka yang sangat besar.  Secara umum, bila dilihat dari beberapa portal mitra kartu prakerja, seperti ruangguru.com atau tokopedia atau aplikasi lainnya, tawaran pelatihan dari program ini cukup menarik dan diasuh oleh tenaga ahli mumpuni. Misalnya, pelatihan Sukses memulai bisnis toko online berbiaya 200 ribu rupiah, diasuh langsung oleh Michael Sugiharto, founder digimaru, kemudian juga ada pelatihan jurnalis freelancer diasuh oleh mantan reporter Net dan koresponden Deutche Welle Prita Kusuma berbiaya 200 ribu. Ini modelnya seperti marketplace tapi khusus pelatihan skill. Hanya saja, paket-paket pelatihan semacam itu sudah banyak di kanal media sosial, seperti IG dan Youtube dan semuanya gratis.  Daripada membayar mendingan gratis. Juga tidak ada jaminan setelah ikut pelatihan kartu prakerja dapat langsung pekerjaan. Karena itu, agar program ini tidak dituding mubazir atau buang-buang anggaran, ada baiknya dibuat diferensiasi dari kanal gratisan.  Pemerintah dan Manajemen Pelaksana Progran Kartu Prakerja perlu mendisain ulang kelebihan program ini, dan tidak sekedar proyek asal jalan, akan tetapi proses, output dan outcome serta impactnya mesti jelas. Apalagi pada zona PSBB kini, saat banyak orang dirumahkan, tidak bekerja, dan tidak berpenghasilan, seperti sekarang ini, yang mereka perlukan bukan pelatihan, tapi uang untuk bertahan hidup bersama keluarganya.  Kartu Prakerja itu bagus, namun timing dan outcomenya perlu didesain ulang. Foto: lensa mandalika

00:00:00 / 00:00:00