Pemberian THR Oleh Pengusaha Belum Jelas

antarafoto_kornelis_kaha.jpg

Bersyukurlah para pegawai negeri aparatur sipil negara saat ini, karena kendati bekerja di rumah dengan status WFH, tetap dapat gaji, tunjangan, uang makan, plus Tunjangan Hari Raya. Walau lebaran tanpa mudik dan tanpa perayaan halal bihalal, pemerintah tetap berkomitmen memberikan THR bagi para ASN. Namun bagi  pekerja swasta, apalagi yang tidak bekerja, status THR-nya belum jelas. Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziah telah menerbitkan SE nomor 6 bulan Mei tahun 2020, tentang kewajiban perusahaan untuk tetap memberikan THR bagi para pekerjanya. 

Ini sebenarnya bagi pengusaha juga dirasa berat, terutama dikaitkan dengan cashflow perusahaan pada kondisi pandemic semacam COVID-19 saat ini. Akan tetapi para pekerja dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia pimpinan Said Iqbal, SE Kemenaker sangat lemah, sebab ada klausul pengusaha dapat menunda atau mencicil pemberian THR. 

Wajar KSPI menolak, sebab pandangan mereka adalah menuntut hak, dan hak itu memang juga sudah diatur oleh negara. Sedangkan SE nomor 6 Ini sebenarnya adalah aturan kompromis. Pengusaha tetap wajib membayar dan pekerja tetap mendapat haknya, kendati tidak langsung diberikan secara penuh. Semua pihak memahami bahwa kondisi pandemic virus corona memang berat bagi semua pihak. Karena itu ada baiknya SE tentang THR itu dilaksanakan sepenuhnya oleh kedua belah pihak. Pengusaha tetap wajib bayar THR dan pekerja bersedia bila dicicil. 

Pengusaha juga harusnya memandang, bahwa pemberian THR bukan suatu yang kebetulan dan sifatnya mendadak. Pemberian THR adalah tahunan dan sejatinya sudah dianggarkan jauh hari.

Sehingga harusnya, pemberian THR tidak mempengaruhi cashflow perusahaan. Sesuai arahan kemenaker, maka dialog itu penting. Tetapi THR dibayar degan kelonggaran waktu. Selain juga, pekerja harus ikut memaklumi bahwa tahun ini, pengeluaran untuk hari raya juga tidak besar, karena hari raya Iedul Fitri kali ini tanpa perayaan halal bi halal, menunda pembelian baju baru, dan yang pasti tanpa mudik. Pasti costnya murah. Kita peringati Iedul Fitri tahun ini di rumah saja, seraya bersyukur cukup dengan menikmati lontong dan ketupat opor ayam bersama keluarga inti.

Ditulis Redaktur Senior Widhie Kurniawan

00:00:00 / 00:00:00