Syarat Warga Usia 45 Tahun ke Bawah Boleh Beraktivitas Lagi

perpanjangan_penerapan_psbb_kota_tegal_antara.jpg

KBRN, Jakarta : Penyampaian pesan pada kondisi pandemik virus corona saat ini memang benar-benar harus jelas dan tegas. Sebab bila pesan disampaikan dalam bahasa yang kurang jelas, mengambang dan multi tafsir, akan memunculkan interpretasi bermacam-macam, dan pada gilirannya justru akan terjadi salah pemaknaan.

Salah satu contoh adalah pernyataan Kepala BNPB Doni Moenardo soal bolehnya beraktivitas kembali bagi warga berusia di bawah 45 tahun. Ternyata, pernyataan itu mendapat respon sangat cepat dan kemudian viral, apalagi dikaitkan dengan pernyataan sejumlah pejabat soal relaksasi. Padahal, penjelasan lebih lanjut belum diterima secara utuh oleh masyarakat. Ternyata, ada ketentuannya untuk yang akan beraktivitas kembali di usia bawah 45 tahun.

Menurut juru bicara COVID-19 Ahmad Yurianto, mereka tetap harus mengikuti protokol kesehatan dan hanya boleh beraktivitas kembali pada 11 sektor saat PSBB. Sektor tersebut adalah  kesehatan, bahan pangan atau makanan/minuman, energi, komunikasi dan teknologi informasi, keuangan, logistik, perhotelan, konstruksi, industri, pelayanan dasar pada obyek vital, serta kebutuhan sehari-hari. Cukup itu saja.

Hal serupa juga terjadi saat dibolehkannya angkutan komersial beroperasi kembali dengan prasyarat khusus. Artinya, kebijakan ini bukan pelonggaran.  Sebab Presiden Joko Widodo juga sudah mengingatkan semua warga bangsa, bahwa pelonggaran atau relaksasi perlu hati-hati.

Setidaknya, dalam kondisi pandemik saat ini, siapapun yang menyampaikan pesan kepada publik, harus jelas, tegas, dan tidak multi tafsir. Bila belum ada aturan konkrit, ada baiknya disiapkan secara detail, baru kemudian disampaikan kepada publik. 

Di samping itu, penyampaian narasi, pemilihan angle dan diksi atau kata juga sangat penting. Namun ada juga yang penting, khalayak luas perlu mendengarkan pesan itu secara utuh agar pemaknaannya jelas. Khawatirnya, pesan yang diambil hanya sepotong-sepotong dan memunculkan salah paham. Bila salah paham, maka akan memunculkan perdebatan. Padahal musuh kita satu, virus corona, sehingga tidak perlu berdebat untuk hal-hal yang tidak semestinya.

Ditulis Redaksi Senior Widhie Kurniawan

00:00:00 / 00:00:00