KEIN Dorong Pelajar Islam Indonesia Bersaing di Dunia Pendidikan dan Ekonomi

KBRN, Jakarta : Alunan Tilawah Quran yang dibawakan sekelompok Pelajar Islam Indonesia menggaung sebelum pembukaan pelantikan Pengurus Pusat Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KBPII), yang berlangsung di gedung Krida Bhakti, Kompleks Sekertariat Negara, Jakarta Pusat.

Dengan pakaian bernuansa ukiran Batik, para undangan mulai berdatangan untuk menyaksikan pengangkatan para pengurus pusat KBPII.

Kepada Reporter RRI, Ketua Dewan Pertimbangan Keluarga Besar PII, Soetrisno Bachir menjelaskan bahwa adanya Organisasi yang menjadi wadah bagi para pelajar Islam di Indonesia, untuk berkembang dalam sektor pendidikan dengan memanfaatkan perkembangan dan kecepatan teknologi informasi pengetahuan, meski ungkap Soetrisno, PII dalam waktu ke waktu sempat mengalami penurunan elektabilitas dalam dunia pendidikan mainstream.

"PII ini dulukan seluruh pelajar di Indonesia itu dulu kegiatannya PII ada di sekolah-sekolah negeri, tapikan sekarang udah ada OSIS, maka PII itu dia berada di sekolah-sekolah yang bukan mainstream. Dengan era digital ini, PII memungkinkan seorang siswa itu banyak belajar di tempat-tempat lain walaupun sekolahannya, walaupun gurunya itu kompetensinya kurang. Tapi si-murid, si-siswa bisa belajar melalui internet," ungkap Ketua Dewan Pertimbangan KB PII, Soetrisno Bachir, di gedung Krida Bhakti, Jakarta (22/02/2020).

Lebih lanjut Soetrisno yang juga sebagai Ketua Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN) juga menjelaskan, dengan adanya peningkatan mutu pendidikan Pelajar Islam di Indonesia tersebut juga dapat menjadikan para pelajar yang berada dibawah naungan PII menjadi lebih berprestasi sehingga meningkatkan kemandirian indeks perekonomian keluarga para Pelajar Islam Indonesia.

"Mereka (Pelajar Islam Indonesia) bisa belajar secara mendiri, secara otodidak dari pelajar-pelajar lainnya, sehingga bisa bersaing dalam pendidikan, menjadi lebih berprestasi. Kalo udah berprestasi bisa punya kapasitas ekonomi yang lebih, pengetahuan yang lebih, sehingga bisa membantu kegiatan-kegiatan, pelajar anak-anak lainnya," jelasnya kembali.

Bahkan dikesempatan sebelumnya, secara terbuka Ketua KEIN, Soetrisno Bachir juga mengkritisi lemahnya perjuangan PII untuk bersaing ditengah ketatnya persaingan ekonomi.

Dalam kata sambutannya pada acara pelantikan Pengurus Pusat KBPII, Soetrisno meminta kepada seluruh Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia untuk meninggalkan pemikiran akan makna kata 'takdir' dalam sengitnya persaingan ekonomi saat ini, dan lebih fokus pada upaya perubahan kemajuan ekonomi Keluarga Besar PII.

"Kita itu jangan pasrah begitu aja dengan kata 'takdir' kalo bicara perekonomian, bicara ilmu pengetahuan, bicara nasib, jangan karena si A lebih mapan, lebih pintar kita langsung bilang 'itu adalah takdir, itu udah nasib'. Kita seharusnya jadi terpacu untuk bagaimana kita bisa bersaing dengan si A, gimana kita mau maju kalo yang kita pikirkan masih seperti itu," kata Soetrisno.

Untuk itu Ketua Dewan Pertimbangan KBPII Soetrisno Bachir berharap dengan adanya kepengurusan yang baru saja dilantik dengan masa periode 2019-2023 tersebut, dapat memberikan sebuah ide gagasan baru didalam program kegiatan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia.

Sebab menurut Soetrisno, adanya tantangan dan persoalan besar bagi KBPII dan umat Muslim secara keseluruhan, yakni pada sektor perekonomian dan ilmu pengetahuan.

"Kegiatan PII adalah bagaimana melakukan suatu  gerakan agenda-agenda baru. Karena tantangan umat Islam itu sekarang berubah, khususnya sekarang bagaimana kelemahan umat Islam itu dibidang ekonomi dan pengetahuan," jelas Ketua KEIN

Dengan begitu Ketua KEIN yang juga sebagai Ketua Dewan Pertimbangan KBPII, Soetrisno Bachir menuturkan bahwa dengan adanya kekuatan pengetahuan dan diimbangi dengan adanya kekuatan perekonomian tersebut, maka Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia serta umat Muslim lainnya dapat memberikan dampak yang besar bagi sesama masyarakat bahkan bagi Negara.

"Jadi KBPII harus konsen terhadap persoalan umat Islam keseluruhan, bukan hanya PII saja, bukan hanya Keluarga Besar PII saja, tapi juga agenda-agenda umat. Karena di ekonomi kuat, pendidikan kuat maka, kita bisa mempunyai akses ke lembaga pendidikan yang kuat, demikian juga lembaga-lembaga seperti kesehatan, sehingga kita (KBPII dan Umat Muslim) dapat turut berkontribusi bagi sesama bahkan bisa juga untuk Negara," tutup Soetrisno Bachir.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00