Bali Terlena Dengan Keindahannya dan Eksotismenya

KBRN, Kuta : Berbagai inovasi diperlukan untuk menjaga eksistensi kepariwisataan Pulau Dewata. Salah satunya dengan pengembangan obyek wisata baru. Langkah ini menjadi strategi mengantisipasi kejenuhan calon wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara.

Pelaku sekaligus pengamat kepariwisataan Bali, I Wayan Puspa Negara menilai, pengembangan destinasi mutlak dilakukan. Ia menganggap, selama ini tidak sedikit pihak masih salah tafsir soal pengembangan kepariwisataan. Pengembangan masih terfokus pada penyediaan hotel, dan restoran. 

"Pariwisata itu banyak sekali yang masuk dalam kategori produk wisata. Produk wisata ya salah satunya adalah atraksi wisata. Kita melihat memang obyek dan destinasi pariwisata yang kita miliki saat ini di Bali memang seperti itu adanya. Paling dari Selatan kita punya Uluwatu, kemudian Mengwi, Kintamani, Ubud, Tanah Lot, Lovina dan seterusnya. Tapi itu hanyalah obyek dan destinasi," ungkapnya ketika ditemui RRI di kawasan Kuta, Minggu (26/1/2020).

Dari sisi atraksi, Puspa Negara tak memungkiri Bali sudah memiliki sejumlah agenda. Namun untuk obyek dan destinasi kepariwisataan, ia mengakui pengembangannya cenderung stagnan. 

"Atraksi sementara kita memiliki memang cukup terbatas. Memang dari segi mobilitas tetap ada. Seperti misalnya festival-festival, terutama Pesta Kesenian Bali sebagai momentum pertahanan nilai-nilai budaya kita dan pelestariannya. Jadi kita melihat sampai sejauh ini, dari obyek dan destinasi memang itu-itu saja yang ada, alias monoton," kata mantan Anggota DPRD Badung itu. 

Di tengah stagnasi pengembangan obyek dan destinasi wisata, Puspa Negara menambahkan, Bali juga masih menghadapi beberapa permasalahan besar. Masalah yang terbilang klasik itu, diantaranya soal tata ruang, infrastruktur, penanganan sampah, kemacetan lalu lintas, dan tindak kriminal baik yang dialami ataupun melibatkan wisatawan mancanegara. 

"Tata ruang kita sungguh sangat kurang tertata. Seperti yang kita lihat di kawasan Badung Selatan bagian utara, misalnya kawasan Batu Belig, Berawa, Munggu, Canggu, Tibubeneng, dan sekitarnya. Pertumbuhan akomodasi wisata kan begitu masif, sementara tata ruang tidak selesai dikerjakan oleh pemerintah daerah. Akibatnya adalah matra ruang yang hancur atau kacau balau ini juga akan menjadi preseden dalam pertumbuhan dan perkembangan pariwisata kita. Karena wisatawan akan melihat sebuah ketidakteraturan," lanjutnya. 

Kondisi ini menurutnya adalah pekerjaan rumah besar bagi pemerintah dan seluruh stakeholder pariwisata. Puspa Negara tak menutup mata, Bali akan ditinggalkan wisatawan, bila tidak mampu menuntaskan seluruh permasalahan yang terjadi. 

Ancaman ini semakin nyata manakala tetangga terdekat Bali yaitu Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam hal ini Mandalika akan menjadi venue MotoGP 2021. Belum lagi Presiden Joko Widodo baru-baru ini menginginkan Labuan Bajo dikembangkan sebagai destinasi wisata super premium. Desa yang terletak di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur itu pun dipercaya menjadi lokasi utama Asean Summit dan G20 pada 2023. 

"Saya lihat memang di Bali ini sepertinya terlena. Jadi kita tidak kunjung menata infrasturktur dengan baik. Jika kita terus berdiam diri, saya kira NTT dengan Labuan Bajo-nya, dan NTB dengan MotoGP-nya di Mandalika akan bisa meninggalkan kita dari sisi kedatangan wisatawan domestik dan internasionalnya," pungkasnya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00