Efek Corona Bagi Awak Media

KBRN, Jakarta: Pandemi Corona mempengaruhi banyak pihak termasuk media. Sejak pengumuman adanya warga yang tertular virus Corona oleh Presiden, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) meminta media berhati-hati menyiarkan berita. Aliansi Jurnalis Independen juga bersikap, antara lain agar media tidak mengeksploitasi korban.

Kebijakan menjaga jarak (social distancing) membuat pengelola perusahaan televisi menyiasati program yang menghadirkan banyak penonton di studio. Namun efek berbeda terjadi di luar studio. 

Setidaknya empat program televisi digelar tanpa penonton: Liga Dangdut Indonesia 2020, Kick Andy Heroes Award, Rumah Uya, dan Mata Najwa mengirim tagar #bergerakdari kewaspadaan terhadap penyebaran Covid-19, Mata Najwa 18 Maret dilangsungkan tanpa penonton di studio.

Meski terjadi pengurangan atau peniadaan penonton di studio, kebijakan menjaga jarak membuat lonjakan penonton di luar studio hingga 50 persen. Sebab, warga harus tinggal di rumah atau bekerja dari rumah. Komisioner KPI mengklaim lonjakan penonton membuktikan televisi merupakan garda terdepan pemberitaan Covid- 19, dan media massa yang terpercaya karena tidak menyebarkan hoaks. Tentu saja klaim ini perlu dikritisi dan dibuktikan, misalnya bila pandemi telah berakhir.

Pandemi Corona memberikan tantangan yang tidak kalah berat bagi media agar kesehatan dan keselamatan kerja terjaga. Para jurnalis rawan tertular virus karena berdekatan dengan narasumber yang sebenarnya berstatus ODP atau PDP. Sejumlah jurnalis bahkan bersalaman dengan narasumber yang belakangan diketahui positif Corona.

Kini, mereka juga harus bersiasat agar dapat melakukan verifikasi melalui daring. Kualitas berita menjadi tantangan lainnya. Keberpihakan pada publik tetap diutamakan, termasuk menyajikan informasi transparan dan kritis.

Naskah disusun oleh Pakar Komunikasi Publik Universitas Atmajaya, Yogyakarta, Lukas Ispandriarno

(ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/ama).

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00