Covid-19, Perjalanan 100 Hari yang Mengubah Dunia

KBRN, Jakarta : Dimulai dengan sebuah peringatan, sampai akhirnya berubah menjadi pandemi yang mengubah kehidupan manusia di dunia. Malam tahun baru 2019 menuju hari pertama di tahun 2020, dunia siap untuk masuk tatanan baru.

Obituari 2019 yang penuh dengan gelombang dan letupan maupun gejolak di dunia ini terasa masih membekas kala itu. Sebut saja, Brexit, perang saudara Suriah, krisis pengungsi, proliferasi media sosial, dan nasionalisme, ditengarai akan membentuk dunia dan lebih jauh lagi akan mengubah dunia ini saat masuk 2020.

Akan tetapi, dengan segala tingkatan kecerdasan maupun teknologi yang dimiliki, manusia sama sekali tak menyangka bahwa perubahan sebenarnya bukan dari semua konflik yang terjadi pada 2019, melainkan dimulai pada 31 Desember 2019, tepat pukul 13.38. 

Kala itu sebuah situs web pemerintah Cina mengumumkan deteksi “pneumonia aneh yang tak diketahui penyebabnya" di daerah sekitar pasar grosir makanan laut Tiongkok Selatan di Wuhan, sebuah kota industri yang berpenduduk 11 juta orang.

Wabah itu adalah satu dari setidaknya selusin yang harus dikonfirmasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia pada Desember silam, termasuk Ebola di Afrika Barat, Campak di Pasifik dan Demam Berdarah di Afghanistan. Untuk di luar China, "pneumonia aneh" tersebut nyaris tak diperhitungkan.

Padahal, selama 100 hari ke depan, virus "aneh" tersebut akan membekukan perjalanan Internasional, memadamkan aktivitas ekonomi dan membatasi setengah dari manusia di dunia untuk tinggal di dalam rumah, menginfeksi lebih dari satu juta orang dan terus bertambah, termasuk para pemimpin dunia seperti Presiden Iran, aktor Idris Elba, hingga Perdana Menteri Inggris. Bahkan pada pertengahan April, lebih dari 75.000 penduduk dunia tewas.

Tetapi semua itu masih tak terbayangkan pada akhir Desember, karena pukul 11.59 tepat tengah malam, kembang api mulai meletup perlahan sebagai persiapan pesta siraman kembang api berwarna-warni pada pukul 00.00. Dimana saat itu semua orang di seluruh dunia berpelukan, berpesta, mengucap takbir, namun tak satupun sadar, itulah saat terakhir mereka merasakan semua kebahagiaan tersebut.

Hari 1

Rabu 1 Januari 2020

Pasar Makanan Laut (Seafood) Kota Wuhan Ditutup

Pasar makanan laut Wuhan biasanya ramai, tetapi polisi pagi ini bertindak tegas menutup dan menyegel semua toko yang ada di sana. Para pemilik toko dan pekerjanya bergegas menutup rolling door agar tidak bermasalah dengan kepolisian antinya. Setelah itu, muncul orang-orang dengan pakaian hazmat lengkap, mereka dengan hati-hati mengambil sampel dari permukaan logam yang ada di pasar tersebut, lalu menempatkannya dalam kantong plastik tertutup.

Sejak kejadian ini, mulai bermunculan komentar-komentar maupun pemberitahuan serta peringatan di media sosial Tiongkok, yang diperkuat dengan sebuah narasi bahwa ada pasien datang ke rumah sakit Wuhan dengan keluhan menderita gejala aneh.

"Sars pada dasarnya pasti, jangan biarkan perawat keluar," kata sebuah pesan di medsos kala itu.

"Cuci tanganmu. Masker. Sarung tangan," tulis pesan lainnya.

Penutupan pasar hewan di Wuhan, provinsi Hubei, Tiongkok Selatan, membuat pihak berwenang di Taiwan waspada. Mereka langsung menerapkan tindakan pencegahan kesehatan dengan cara memeriksa secara ketat setiap kedatangan (arrival) penumpang pada penerbangan langsung dari Wuhan. Penumpang diperiksa apakah ada gejala menyerupai flu saat masih di landasan pesawat di Taipei. 

Dalam dua hari, Singapura dan Hong Kong sudah ikut memantau lalu lintas orang di perbatasan masing-masing negara.

Sementara itu, di Wuhan, pihak keamanan dari Biro Keamanan Umum, memanggil dan memeriksa delapan orang yang dituduh menyebarkan desas-desus tentang penyakit aneh di media sosial. Orang lain yang ikut diperiksa adalah seorang dokter mata bernama Li Wenliang, karena ia menunjukkan kepada sekelompok alumni fakultas kedokterannya suatu analisis kehadiran virus baru yang ia yakini sebagai "anak" dari Sars.

Frasa seperti "pneumonia aneh Wuhan" dan "pasar makanan laut Wuhan", sudah disensor di YY, sebuah platform streaming langsung yang populer di Tiongkok.

Hari ke 9

Kamis 9 Januari 2020

Novel Coronavirus Teridentifikasi

Penyakit misterius berhasil teridentifikasi, ketika ilmuwan Cina mengatakan pasien yang sakit di Wuhan telah mengidap kontraksi virus Corona, yang belum pernah ditemukan sebelumnya.

Dua keluarga Coronavirus, yakni Sars dan Middle Respiratory Syndrome (Mers), telah memicu pandemi abad ini. Tapi virus Corona yang baru teridentifikasi ini diyakini juga mematikan. Bahkan tercatat, seorang lelaki berusia 61 tahun meninggal di rumah sakit Wuhan. Ia lantas dikenal sebagai korban pertama Coronavirus yang diketahui.

Pada tahap ini, banyak terjadi pengembangan dan spekulasi. Sekuensing virus telah memungkinkan dokter untuk menghentikan pasien yang diduga terinfeksi, padahal sebenarnya hanya menderita pneumonia biasa. Namun setelah meninggalnya pria berusia 61 tahun itu, tidak ada kasus coronavirus baru yang diumumkan otoritas setempat selama empat hari.

Ketakutan semakin menyebar, hingga muncul spekulasi konyol tentang kecelakaan pesawat di pinggiran Teheran, dimana Iran menyalahkan kesalahan teknis, tetapi foto dan video yang beredar online meningkatkan kecurigaan bahwa itu ditembak jatuh. Dimana spekulasinya? Menurut beberapa sumber, itu ditembak jatuh untuk menutupi sebuah dokumen rahasia mengenai virus Corona yang ada di dalam pesawat tersebut.

Nantinya, sebuah penelitian akan menyimpulkan bahwa pada titik ini, epidemi bertambah dua kali lipat setiap pekan. Selanjutnya, Li Wenliang, si dokter mata, akan mulai menunjukkan gejala.

Hari ke 13

Senin 13 Januari 2020

Thailand Melaporkan Kasus Pertama

Lebih dari seminggu telah berlalu sejak otoritas kesehatan Wuhan terakhir mengkonfirmasi kasus virus corona baru. Tidak ada apa-apa sejak kota mulai menjadi tuan rumah pertemuan tahunan penting antara pejabat partai negara dan provinsi.

Tetapi virus telah menyelinap ke internet. Thailand melaporkan kasus pertamanya, yang melibatkan seorang warga Wuhan berusia 61 tahun yang suhunya tinggi terdeteksi oleh pemindai pengawasan thermal di bandara Bangkok.

Sebuah komite spesialis penyakit menular yang menggunakan akronim Nervtag bertemu di London untuk membahas virus, dan menganggap bahwa risiko virus akan menyeberang ke Inggris adalah sangat rendah, tetapi menjamin akan adanya penyelidikan dan pengujian.

Pemerintah Cina mengatakan, belum ada bukti yang jelas tentang penularan dari manusia ke manusia, termasuk tanda-tanda profesional medis menjadi sakit. Pesan resmi Tiongkok tersebut ikut digemakan oleh World Health Organization (WHO), yang mengeluarkan siaran pers yang memuji respons kuat dari pemerintah China.

Bahkan seorang ahli epidemiologi coba menyuarakan kepositifan dengan mengatakan, berita itu menggembirakan. 

"Jika tidak ada kasus baru dalam beberapa hari ke depan, (artinya) wabah telah berakhir," kata Guan Yi, seorang profesor penyakit menular di Universitas Hong Kong kepada New York Times.

Hari ke 20

Senin 20 Januari

Penularan dari Manusia ke Manusia Dikonfirmasi

Zhong Nanshan, seorang ahli pernapasan yang tepercaya dan wajah publik dari tanggapan pemerintah China, tampil di televisi pemerintah dengan berita buruk, bahwa dua kasus baru virus telah muncul di provinsi Guangdong di antara pasien yang tidak memiliki kontak langsung dengan Wuhan.

“Kita dapat mengatakan pasti bahwa itu adalah fenomena penularan dari manusia ke manusia,” kata Zhong.

Kesimpulannya jelas, bahwa virus itu mulai menyebar dengan cara penularan dengan manusia sebagai carrier kepada manusia lainnya.

Ditengarai telah lenyap dari CHina selama dua pekan, ternyata virus ini sekarang muncul di seluruh negeri. Pada Jumat malam, ada empat kasus baru. Pada hari Minggu, sudah menjadi 139 kasus. Dan penyebaran semakin meluas karena pada keesokan harinya, kasus-kasus akan dikonfirmasi di Beijing dan Shanghai.

Penyakit ini menyebar ke seluruh dunia, dari Jepang, Korea Selatan, dan AS, dimana kemarin seorang pria berusia 35 tahun yang baru saja kembali dari Wuhan datang ke sebuah klinik di negara bagian Washington dengan batuk dan demam tinggi, menjadi kasus pertama di AS.

Ketika dikonfirmasi mengenai satu orang pasien yang menderita gejala virus aneh dari Wuhan, Tiongkok, Presiden AS Donald Trump malah menyela untuk bertanya kapan produk vaping beraroma akan kembali ke pasaran. Demikian sempat dilaporkan Washington Post.

Sementara itu, kepanikan mulai tumbuh di Wuhan. Pada pukul 6 pagi, lebih dari 100 pasien dengan gejala Coronavirus menunggu untuk diperiksa di rumah sakit Xiehe di kota itu. Demikian kesaksian seorang pekerja saat dimintai keterangan The Guardian.

Hari ke 24

Jumat 24 Januari 2020

Virus Tiba di Eropa

Menjelang liburan tahun baru China (Imlek), ketika ratusan juta orang Tiongkok bepergian untuk mengunjungi teman dan keluarga, Wuhan telah ditutup oleh pemerintah akibat penyebaran virus Corona. Sebagian besar transportasi masuk dan keluar kota ditangguhkan operasionalnya. Lebih dari 800 infeksi telah terdeteksi di sana dan 25 orang dinyatakan meninggal dunia.

Kota ini adalah yang pertama kali mengalami wabah penuh, peningkatan beban kasus yang cepat, hingga rumah sakit berada di bawah tekanan berat dan seluruh populasi harus dikarantina.

Pada bagian lain, virus itu tiba di Eropa, yakni Perancis. Terdeteksi dalam dua kedatangan baru dari Tiongkok dan seorang kerabat. Ketiganya telah memiliki puluhan kontak dan otoritas Perancis mengatakan mereka berlomba untuk melacak kemungkinan kasus. 

"Anda harus mengobati epidemi saat Anda mengobarkan api," kata menteri kesehatan Prancis, Agnès Buzyn, menyindir pemerintah China.

Pada saat yang sama, Presiden AS Donald Trump menerima pertanyaan media pertamanya tentang virus ketika di Davos dua hari lalu. Ditanya apakah dia khawatir dengan potensi pandemi, dia menjawab dengan sangat kuat.

“Tidak sama sekali. Dan kita sudah bisa mengendalikannya dengan sempurna,” kata Trump kala itu.

Lepas dari pergerakan virus di Eropa dan pernyataan positif Trump, namun besok, lockdown China akan diperlebar hingga mencakup 56 juta orang. 

Presiden China, Xi Jinping, akan memperingatkan bahwa negara itu sedang menghadapi situasi gawat. Dan Liang Wudong, seorang dokter di rumah sakit Xinhua di Hubei, akan menjadi profesional medis pertama yang meninggal.

Hari ke 31

Jumat 31 Januari 2020

Wabah Bertepatan dengan Tonggak Sejarah Brexit

Setelah hampir empat tahun berdebat sengit di parlemen dan di seluruh negeri, tepat jam 11 malam, Inggris secara resmi keluar dari Uni Eropa. 

Big Ben virtual seolah berseri-seri berbunyi di Downing Street merayakan tonggak sejarah. Di dekatnya, di Parliament Square, Nigel Farage memimpin membawakan lagu God Save the Queen.

Namun tanpa disadari, ini juga merupakan tonggak sejarah untuk Coronavirus, dimana pada akhir hari, wabah akan lebih besar dari Sars. Ini akan dikonfirmasi telah mencapai Inggris. Dan Spanyol serta Italia juga akan mendeteksi kasus pertama mereka.

"Situasinya serius tetapi tidak perlu khawatir, semuanya benar-benar terkendali," kata menteri kesehatan Italia, Roberto Speranza.

Tidak ada yang meninggal di luar China, tetapi di China jumlah korbannya bertambah, sekarang mencapai 258 orang, dengan lebih dari 11.000 terinfeksi. 

Melihat keadaan yang berkembang mulai tidak baik, Amerika Serikat yang tadinya mengumbar kata positif, akhirnya mengumumkan larangan masuk bagi orang asing yang baru-baru ini berada di China.

Hari ke 35

Selasa 4 Februari 2020

Kematian Pertama di Luar Tiongkok

Hitungan kasus resmi di Tiongkok melewati 20.000, dengan 425 orang meninggal. Seorang warga Wuhan yang menderita pneumonia parah pekan lalu meninggal di sebuah rumah sakit di Manila, Filipina. Ia menjadi orang pertama yang menyerah pada virus di luar China. Bersamaan dengan itu, Filipina resmi melarang kedatangan pendatang baru dari Tiongkok.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, penyebaran Internasional penyakit itu tampaknya minimal dan lambat, meskipun masih bisa memburuk, dan masih belum perlu tidak perlu menghentikan perdagangan dan perjalanan yang tidak perlu. Semua masih bisa berjalan seperti biasa.

Seorang pria London yang tiba di bandara Gatwick dari Shanghai mengatakan kepada The Guardian, bahwa dia khawatir dengan pendekatan yang lemah di sana. Dia mengisi formulir yang merinci informasi kontaknya dan rencana perjalanan selanjutnya tetapi mengatakan itu diabaikan.

Sementara itu, dari rumah sakit pusat Wuhan, kondisi Li Wenliang, dokter mata, terus memburuk. Kematiannya dalam waktu tiga hari akan memicu kemarahan dan kesedihan di kota yang mengalami lockdown dan di seluruh China.

Dari AS, melihat perkembangan Corona di China, mantan direktur kantor kesiapsiagaan pandemi Gedung Putih yang dibubarkan pada 2018, menerbitkan sebuah opini di Wall Street Journal. 

"Hentikan Wabah Koronavirus AS Sebelum Mulai," demikian judul opini tersebut.

Besok Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS akan mulai mendistribusikan kit pengujian Coronavirus di seluruh negeri. Tetapi perangkat tersebut cacat, dan selama bulan depan AS akan melakukan lebih dari 1.200 tes, sementara Korea Selatan dan Jerman beroperasi setidaknya 12.000 per hari.

Dalam waktu beberapa hari, Trump akan memberi tahu sebuah demonstrasi di New Hampshire bahwa wabah akan segera mereda. 

"Pada bulan April, Anda tahu, secara teori, ketika menjadi sedikit lebih hangat, secara ajaib (wabah) hilang," katanya. Masih tetap positif penuh keyakinan.

Hari ke 50

Rabu 19 Februari 2020

Kekhawatiran Atas Korea Selatan

Pengujian ketat dan penelusuran kontak yang rajin dilakukan, ternyata membuahkan hasil di Korea Selatan, dimana hanya 30 kasus virus telah direkam hingga kemarin. Namun kasus ke-31, yang terdeteksi kemarin, mengkhawatirkan pihak berwenang.

Wanita 61 tahun, adalah anggota dari sebuah perusahaan raksasa rahasia dan menghadiri dua layanan ketika sakit. Dia mengabaikan permintaan awal dokter bahwa dia dites untuk virus corona, kemudian pergi makan siang prasmanan di hotel. Pejabat menentukan dia memiliki setidaknya 1.160 kontak berisiko. 

"Setelah itu, (virus) baru saja meledak," demikian pernyataan menteri luar negeri Korea, Kang Kyung-wha.

Pada bagian lain, Iran mengumumkan dua kasus Coronavirus pertamanya yang dikonfirmasi, keduanya di kota suci Qom.

Dari Milan, Italia, Atalanta melanjutkan kisah dongeng mereka di Liga Champions, dengan mengalahkan klub Spanyol Valencia 4-1. Seisi stadion seolah meledak mengiringi setiap gol. 

"Sekitar sepertiga dari populasi kota kecil Bergamo hadir di stadion San Siro," kata komentator pertandingan. 

Ribuan orang Spanyol juga melakukan perjalanan ke ibukota provinsi Lombardy untuk menyaksikan pertandingan menentukan tersebut.

Kegiatan di belahan dunia lainnya, dari Las Vegas, AS, partai Demokrat mengadakan debat presiden kesembilan, yang pertama melibatkan mantan gubernur New York Mike Bloomberg. Itu didominasi oleh serangan membakar reputasi Bloomberg oleh senator Massachusetts, Elizabeth Warren. Sekali lagi di Amerika Serikat, Coronavirus tidak disebutkan, tidak menjadi sesuatu yang harus dibicarakan, bahkan tidak menjadi sesuatu yang harus digubris.

Hari ke 56

Selasa 25 Februari 2020

Virus Bertahan Secara Global

Kasus global telah melampaui 80.000 di seluruh dunia. Untuk pertama kalinya sejak wabah diumumkan, kasus dikonfirmasi di luar China melebihi jumlah di dalam. Pada angka resmi, Beijing mencapai puncak wabahnya dua hari lalu ketika 150 orang meninggal.

Yang lain baru memulai pendakian mereka. Italia mencatat kematian pertamanya empat hari lalu dan sekarang memiliki 11 kematian. Sekitar 50.000 orang di seluruh Italia utara telah mengalami lockdown selama empat hari terakhir, dan menjadi populasi pertama di Eropa yang dikarantina.

Sementara jumlah kematian Iran diyakini terbesar di luar China, dengan setidaknya 12 kematian dikonfirmasi secara resmi dan sebanyak 50 diperkirakan telah meninggal di kota suci Qom saja. Demikian menurut seorang anggota parlemen Iran.

Penyakit ini juga menyerang para elit Republik Islam Iran. Wakil Menteri Kesehatan muncul di televisi kemarin, dengan berkeringat deras ketika dia mengatakan virus itu terkendali. Tapi sore ini, Iraj Harirchi menegaskan bahwa dia telah dites dan ternyata positif.

Pada bagian lain, ketika AS mengumumkan kasus infeksi Corona yang ke-14, Presiden Trump tweet selama kunjungan kenegaraannya ke India.

"Virus corona sangat terkendali di AS. Pasar Saham mulai terlihat sangat bagus untuk saya!” tulis Trump dengan sangat positif dan percaya diri.

Hari ke 66

Jumat 6 Maret 2020

Italia Dalam Krisis, Inggris Mencatat Kematian Pertama

Jumlah kematian Italia telah meningkat enam kali lipat dalam enam hari. Lebih dari 230 orang Italia tewas dan beban kasus bertambah lebih dari 1.200 setiap hari. 

Roma telah menutup sekolah, melarang penonton dari pertandingan sepak bola Serie A dan sedang mempersiapkan untuk ringfence Lombardy.

"Risiko sistem kesehatan menjadi terlalu berat dan kita akan memiliki masalah dengan perawatan intensif jika krisis eksponensial berlanjut," kata Perdana Menteri Italia, Giuseppe Conte.

Seorang wanita berusia 70-an menjadi orang pertama yang meninggal karena virus di Inggris, dan Downing Street mengatakan virus itu sekarang kemungkinan menyebar “secara signifikan”.

Tiga hari yang lalu, pada konferensi pers, Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson mengangkat alis ketika dia mengatakan dia terus berjabat tangan. 

“Saya berada di rumah sakit malam sebelumnya, dimana saya pikir ada beberapa pasien coronavirus dan saya berjabat tangan dengan semua orang,” katanya.

Hari ke 71

Rabu 11 Maret 2020

Covid-19 Dinyatakan Sebagai Pandemi

Dalam pidato Oval Office yang langka, Trump mengumumkan bahwa pemerintahannya memulai "upaya paling agresif dan komprehensif untuk menghadapi virus asing dalam sejarah modern". Hal itu terjadi, setelah jumlah kasus di AS telah melewati 1.000 dan lebih dari 116.000 orang terinfeksi di seluruh dunia. Rupanya Trump mulai khawatir.

Pasar saham di AS dan Inggris runtuh lebih cepat daripada kapan pun sejak jatuhnya keuangan pada 2008, panik oleh virus dan perang harga minyak Saudi-Rusia.

Pada bagian lain, kematian di Italia meningkat sebesar 168 dalam satu hari, dan menjadi angka tertinggi yang tercatat di mana saja. Gambar seorang perawat Italia yang kelelahan pingsan di atas mejanya menjadi viral. 

Negara ini sedang menghadapi "jam paling gelap", kata Perdana Menteri Italia, Giuseppe Conte.

Dengans emakin besarnya dampak yang diakibatkan penyebaran Corona Virus Disease 2019 atau disingkat Covid-19, badan kesehatan dunia di bawah Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yakni WHO, menyatakan apa yang memang sudah seharusnya, bahwa: Covid-19 adalah pandemi!

Inggris memiliki 456 kasus tetapi menentang jenis lockdown atau penutupan massal yang diterapkan di tempat lain di Eropa. Orang-orang yang sakit dan rentan disarankan untuk tinggal di rumah, tetapi pemerintah condong ke arah pandangan bahwa biaya total penindasan virus akan terlalu tinggi dalam hal kebebasan yang hilang. 

Hari ke 77

Selasa 17 Maret 2020

Eropa Paling Menderita

Negara-negara Eropa saling menyegel (lockdown) satu sama lain, dan benua itu seolah menutup diri dari dunia. 

"Kami sedang berperang," kata Presiden Prancis, Emmanuel Macron.

Kematian di Italia sekarang melebihi 450 setiap hari dan akan segera melebihi jumlah di China. 

Kasus yang dikonfirmasi di Spanyol akan berlipat ganda menjadi lebih dari 17.000 pada akhir minggu ini. 

Tiga perempat dari mereka yang meninggal karena penyakit ini adalah orang Eropa.

Setiap jam membawa perkembangan baru: lebih banyak kasus, lebih banyak kematian dan lebih banyak pembatasan pergerakan. Warga Australia di luar negeri menerima permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk kembali ke rumah sesegera mungkin. 

Prancis dilarang mengendarai sepeda. Dan 40 juta penduduk California, AS, disarankan untuk tidak meninggalkan rumah mereka.

Downing Street bergerak untuk segera merevisi strateginya, karena muncul peringatan bahwa virus akan menghabiskan setengah juta nyawa warga Inggris dan hal itu sama saja mengirim NHS (otoritas kesehatan di Inggris) ke dalam kehancuran.

Dari Burkina Faso, Afrika, mantan wakil presiden parlemen meninggal karena virus itu, dan menjadi kematian Covid-19 pertama yang dikonfirmasi di Afrika sub-Sahara. Pada akhir Minggu, akan ada 1.000 kasus di benua itu. Lebih dari 160.000 kasus telah dikonfirmasi di seluruh dunia.

Hari ke 83

Senin 23 Maret 2020

Inggris Mengeluarkan Perintah Lockdown

Kasus yang dikonfirmasi di seluruh dunia telah melampaui 370.000, termasuk lebih dari 6.600 warga Inggris. 

Dalam apa yang dianggap sebagai salah satu momen paling banyak ditonton dalam sejarah televisi Inggris, Boris Johnson memerintahkan penutupan semua bisnis yang tidak penting dan mendesak seluruh warga negara untuk tinggal di rumah.

"Anda harus tinggal di rumah," kata Johnson.

Sementara hampir 400 orang tewas di Spanyol, menjadi korban harian tertinggi sejauh ini. Itu akan terbukti menjadi korban terendah untuk setidaknya dua minggu ke depan.

Kemudian, lebih dari 5.000 kasus baru dikonfirmasi di New York, AS, menjadikan total kasus di negara bagian tersebut menjadi 20.000. Pada akhir minggu, AS akan memiliki infeksi terbanyak di dunia.

Namun ketika Amerika dan Eropa "terbakar" oleh keganasan Covid-19, berita bahagian datang dari China, karena negara tersebut mencatat hari pertamanya tanpa ada kasus penularan domestik, termasuk di Hubei, provinsi tempat penyakit itu pertama kali muncul.

Sedangkan besok, Perdana Menteri India, Narendra Modi, akan mendesak bangsanya untuk "melupakan apa yang terjadi" selama tiga minggu ke depan, alias mengunci atau menerapkan lockdown terhadap negara itu selama 21 hari (tiga pekan). 

Perintah penguncian akan memicu salah satu migrasi manusia terbesar di seluruh benua sejak dipartisi pada 1947, ketika para pekerja mencoba untuk kembali ke negara bagian asal mereka. Ini berarti lebih dari 3,5 miliar orang di seluruh dunia sekarang hidup di bawah karantina.

Hari 93

Kamis 2 April 2020

Tonggak Sejarah Suram Mulai Berlalu

Sekitar pukul 8.40 malam GMT, jumlah orang Universitas Johns Hopkins yang dikonfirmasi memiliki Covid-19 melewati 1 juta, dengan lebih dari 50.000 orang tewas. Yang sakit termasuk Boris Johnson, yang mengatakan dia hanya menunjukkan gejala kecil dan masih dapat memimpin tanggapan pemerintah Inggris.

Di Hongaria, Perdana Menteri Viktor Orbán, telah diberikan kekuasaan untuk memerintah dengan keputusan tanpa batas waktu.

Di India, kasus kedua ditemukan di Dharavi, daerah kumuh yang luas di Mumbai dan salah satu tempat paling padat penduduknya di Bumi. Ini memicu kekhawatiran bahwa wabah negara itu mungkin jauh lebih buruk daripada jumlah resmi 2.069 kasus.

Kematian di Spanyol melebihi 950 orang dalam satu hari, yang paling banyak dicatat. 

Dari negeri paman sam, angka menunjukkan rekor 6,6 juta orang Amerika yang mengajukan tunjangan pengangguran pada minggu lalu, disamping lebih dari 3 juta orang yang melakukannya pada minggu sebelumnya. 

AS memiliki hampir seperempat juta kasus dan 6.000 kematian. Rumah sakit lapangan telah didirikan di Central Park New York, dan truk berpendingin sedang digunakan untuk menyimpan yang mati. Trump memperingatkan warganya bahwa "dua minggu yang sangat, sangat menyakitkan" akan terjadi ke depan nanti.

Hari 99

Rabu 8 April 2020

Masa Suram Perlahan Berlalu, Tapi Masa Depan Pandemi Masih Gelap 

Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson tetap di rumah sakit, setelah melewati perawatan intensif sejak hari Senin kemarin akibat gejalanya memburuk.

Di beberapa negara paling parah di Eropa, transmisi dan kematian baru mulai turun angkanya. 

Bahkan China telah mencatat hari pertamanya dengan nol kematian dan dengan hati-hati membuka kembali kota-kota, termasuk membuka lockdown Wuhan.

Sabtu lalu mungkin merupakan hari paling mematikan sejauh ini, dengan lebih dari 6.500 kematian di seluruh dunia. Tetapi dengan beberapa negara termiskin dan terpadat secara resmi masih relatif tidak tersentuh oleh virus, masih terlalu dini untuk mengatakan dengan pasti.

Singapura, yang terkenal karena responsnya yang cepat, telah memperkenalkan karantina yang ketat di tengah tanda-tanda kemungkinan gelombang infeksi kedua. Vaksin sedang dilacak dengan cepat tetapi kemungkinan tidak ada dalam pasokan massal setidaknya selama 18 bulan.

Pakistan membuka kembali sektor konstruksinya. Dengan seperempat penduduknya berada dalam kemiskinan, negara ini menghadapi kesulitan antara memperlambat virus dan warganya tidak mati kelaparan.

"Memastikan orang tidak mati kelaparan dan ekonomi kita tidak runtuh," kata Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan.

Total global selama 100 hari perjalanan dunia dengan Corona, lebih dari 75.000 orang meninggal dan lebih kurang 1,3 juta telah terinfeksi, hingga 9 April 2020. 

Namun sekitar 270.000 orang terlah pulih kembali alias sembuh. Tidak ada strategi yang disepakati tentang cara mengembalikan kehidupan normal. Karena virus datang dengan sangat cepat dan mengubah dunia ini dalam 100 hari, tanpa disadari oleh penguasa dunia fana itu sendiri, yakni manusia.

Sumber/Pranara : Michael Safi/TheGuardian

Foto : Filippo Monteforte/AFP via Getty Images

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00