Jean Richard Jokhu, Doktor Termuda dari Papua

KBRN, Depok: Masyarakat Papua tentu bangga dengan prestasi gelar Doktoral (S3) yang baru saja diraih oleh Jean Richard Jokhu dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEBUI), Senin (13/01/2020).

Tidak hanya lulus dengan nilai disertasi memuaskan (A Minus), Jean Richard Jokhu menoreh sejarah menjadi putra Papua termuda yang dapat menyelesaikan program S3 di usia 31 tahun.

Dalam disertasinya yang berjudul "Faktor-faktor yang memengaruhi Proses Pengambilan Keputusan Stratejik Secara Heuristik Terhadap Project Output (Studi Empirik pada UKM Konstruksi di Papua)". Jean menjelaskan bahwa keterbatasan informasi, masyarakat lokal yang repressive, serta lingkungan yang dinamis tidak menjadi alasan perusahaan UKM untuk tidak melakukan proyek di Papua atau terbengkalainya proyek di Papua.

Ada keputusan heuristik yaitu kesederhanaan dalam proses pengambilan proyek yang bisa dilakukan sebagai alternatif pilihan untuk menyelesaikan proyek.

"Jadi proyek yang dikerjakan itu bisa diambil berdasarkan pengalaman daripada dia repot bilang ada masyarakat lokal yang suka palang-palang (menghambat) kegiatan proyek. Dia suka bilang, kalau Pemerintah suka menggerogoti. Kenyataannya dilapangan tidak seperti itu. Selama pekerjaan itu pernah dilakukan, perusahaan bisa menyelesaikannya, tenaga kerja yang diperlukan pun bisa ditemukan, selama dia pernah memiliki pengalaman dan memiliki keyakinan bahwa ia mampu menyelesaikan," ujar Jean kepada RRI, usai penobatan gelar Doktoral nya di Auditorium FEBUI, UI Kampus Kota Depok.

Dosen tetap jurusan Ekonomi Internasional di President University, Cikarang, Bekasi, ini menyebutkan, latar belakang dirinya mengambil penelitian tersebut karena dia mendapat informasi bahwa mayoritas perusahaan UKM konstruksi di Papua, jengah dengan masyarakat lokal karena selalu palang kegiatan proyek dan harga bahan baku yang tidak kompetitif.

Sehingga itu yang menjadi alasan para perusahaan UKM khususnya konstruksi berhenti atau tidak mau mengambil proyek di Papua.

"Padahal kenyataannya, kemampuan mereka mengambil proyek di Papua ditentukan oleh pengalamannya. Selama dia mampu menyelesaikannya harusnya bahan baku yang ditemukan di pulau lain pun bisa di dapatkan dan itu tidak menjadi beban. Karena kemampuan peruahaan itulah yang menjadi daya saingnya dia," ujarnya.

Apa itu Palang? Palang adalah bentuk penolakan dari masyarakat pribumi dilaksakanannya proyek tersebut dilokasi, sehingga diberi Palang. Alasannya bervariasi intinya belum koordinasi dengan masyarakat setempat.

"Padahal itu bisa diatasi dengan cara menjalin hubungan komunikasi dengan ketua adat setempat. Mempekerjakan orang-orang lokal daripada dari pulau seberang," katanya.

Jean menghimbau kepada perusahaan UKM Papua, agar memberikan pelatihan kepada masyarakat lokal bahwa pekerjaan itu bisa dilakukan selama ada tupoksinya, dan ada proses auditnya sebagai tolak ukur keberhasilan sebuah proyek.

Kepada masyarakat lokal, Jean mengajak warga Papua untuk membuka diri, menerima dan mengadaptasi budaya-budaya baru. Agar Papua bisa berkembang dan bersaing.

"Kalau kita terus menolak budaya-budaya baru, yang terjadi Papua malah tertinggal. Bukannya semakin bisa bersaing," kata mantan pegawai Bank Danamon ini.

Kemudian, Pemerintah setempat juga harus memberikan dorongan insentif bagi perusahaan-perusahaan besar yang mau masuk ke Papua dan mau hire orang Papua supaya terjadi transfer pengetahuan. Sehingga masyarakat lokal semakin mandiri dan bisa maju untuk membangun Papua, kaitannya dalam menyambut era industri 4.0.

Masih dilokasi yang sama, mantan Aggota DPR RI Periode 1992-2009 Simon Petrus Morin menganggap disertasi Jean Richard Jokhu menarik karena mengangkat persoalan-persoalan yang dihadapi oleh pengusaha UKM khususnya kontraktor di Papua. Dari disertasi ini diharapkan ada pemecahaan permasalahan yang dihadapi pengusaha-pengusaha lokal di Papua sehingga mereka bisa ikut berperan dalam pembanguan daerah.

"Disertasi ini mencoba mengungkap, persoalan apa yang harus kita perbaiki sehingga dengan demikian mereka (pengusaha) semakin terlibat di dalam proyek-proyek yang akan dikembangkan di Papua," tutur Simon.

Simon mengakui, dunia konstruksi di Papua merupakan sesuatu dunia yang baru, dimana tenaga-tenaga yang ahli di bidang konstruksi masih terbatas.

"Makanya dia (Jean) tadi mengatakan, soal decision making sebuah proyek pengusaha lokal kecil dan menengah menemui kesulitan ditambah minimnya sumberdaya yang bisa membantunya terbatas. Kedepan pemerintah diharapakan bisa membantu pengusaha lokal yang mengalami kesulitan tanpa harus memungut yang macam-macam," katanya.

Karena korelasinya, sambung Simon, minimnya sumberdaya manusia yang mumpuni akan membuat si decision maker menunda-nunda dalam mengambil keputusan. Dampaknya proyek bisa terbengkalai sehingga menyebabkan penilaian terhadap pengusaha lokal itu negatif.

Sidang Akademik Universitas Indonesia dalam rangka upacara promosi Doktoral dalam Ilmu Manajemen Kekhususan Manajemen Stratejik di pimpin oleh Prof Susijati B Hirawan, dengan penguji diantaranya Prof Firmanzah, Dr Anton W Widjaja, Sari Wahyuni, Ph.D, Riani Rachmawati, Ph.D, Dr Setyo Hari Wijanto, Dr Mohamad Hamsal.

Dengan dikukuhkannya, Doktoral Jean Richard Jokhu, menjadikan dirinys akademika ke 281 yang menyandang Doktoral di UI. Sebelumnya, Jean telah melalui ujian proposal, ujian riset, publikasi dan ujian promosi Doktoral hari ini.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00