NH Dini : Fakta Tahun Kabisat, RRI Semarang dan The Minions

KBRN, Jakarta : Google Doodle hari ini menayangkan sastrawan, novelis legendaris Indonesia, NH Dini, kelahiran Semarang, 29 Februari 1936. 

Penulis berdarah Bugis yang memulai karir profesional dengan menulis naskah drama yang disajikan di RRI Semarang dalam sebuah acara lomba naskah drama, dan berhasil mendapat hadiah pertama. 

Jadilah ia membacakan sajak dan prosa berirama di Radio Republik Indonesia (RRI) Semarang saat berusia 15 tahun. Dan satu kelebihannya adalah, ia banyak dan selalu semangat membacakan hasil karyanya sendiri. 

Di luar karir menulis, salah satu keunikan pemilik nama lengkap Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin ini adalah, ia merayakan ulang tahun empat tahun sekali. Sebab tanggal kelahirannya masuk dalam tahun kabisat, yakni memiliki jumlah hari yang lebih banyak daripada tahun biasa dan terjadi tiap empat tahun sekali.

Jika tahun biasa memiliki jumlah hari sebanyak 365, pada tahun kabisat 2020 ini terdapat 366 hari dalam setahun. Penambahan satu hari pada tahun kabisat diberikan pada bulan Februari (biasanya 28 hari menjadi 29 hari).

NH Dini menulis berbagai genre sastra, yaitu puisi, drama, cerita pendek, dan novel, tetapi ia lebih terkenal sebagai novelis yang kebanyakan karyanya mempergunakan latar negara-negara luar Indonesia.

Mengutip laman wikipedia, Dini dilahirkan dari pasangan RM. Saljowidjojo, seorang pegawai Perusahaan Jawatan Kereta Api dan Kusaminah. Ia anak bungsu dari lima bersaudara. Masa kecilnya penuh larangan. 

Dini mengaku mulai tertarik menulis sejak kelas tiga SD. Buku-buku pelajarannya penuh dengan tulisan yang merupakan ungkapan pikiran dan perasaannya sendiri. Ia sendiri mengakui bahwa tulisan itu semacam pelampiasan hati. Ibu Dini, yang harus bekerja keras sebagai buruh batik setelah kematian suaminya, selalu bercerita padanya tentang apa yang diketahui dan dibacanya dari bacaan 'Panji Wulung', 'Panjebar Semangat', 'Tembang-tembang Jawa dengan Aksara Jawa' dan sebagainya. Baginya, sang ibu mempunyai pengaruh yang besar dalam membentuk watak dan pemahamannya akan lingkungan.

Sekalipun sejak kecil kebiasaan bercerita sudah ditanamkan, sebagaimana yang dilakukan sang ibu kepadanya, ternyata Dini tidak ingin jadi tukang cerita. la malah bercita-cita jadi masinis, atau diistilahkannya sebagai sopir lokomotif. Tapi obsesinya itu tak kesampaian akibat tidak bisa menemukan sekolah khusus calon masinis kereta api.

Akhirnya, Dini menjadi seorang penulis. Karena ia memang suka cerita dan membaca. Terkadang, sehabis membaca sesuatu, ia penasaran ingin tahu kemampuannya. Misalnya usai membaca sebuah karya, dia berpikir 'jika hanya begini, saya pun mampu membuatnya'. Dan dalam kenyataannya, ternyata ia memang mampu melakukannya. Tentu dengan dukungan tehnik menulis yang dikuasainya.

Dini ditinggal wafat ayahnya semasih duduk di bangku SMP, sedangkan ibunya hidup tanpa penghasilan tetap. Mungkin karena itu, ia jadi suka melamun. Bakatnya menulis fiksi semakin terasah di sekolah menengah. Waktu itu, ia sudah mengisi majalah dinding sekolah dengan sajak dan cerita pendek. Bakat Dini itulah yang akhirnya membawa ia menjadi seorang penyiar di RRI Semarang, dalam acara Tunas Mekar.

Selain pernah menjadi penyiar radio, Dini juga sempat mengikuti pendidikan untuk menjadi pegawai Garuda Indonesia Airlines, dan lolos. Dini akhirnya pindah ke Jakarta, menjadi pramugari di GIA selama tiga tahun (1957-1960).

Bahtera yang Retak

Pada 1960, NH Dini menikah dengan seorang diplomat Perancis, Yves Coffin, yang pada saat itu sedang bertugas selama empat tahun di Indonesia. Setelah menikah, mereka pindah ke Jepang. 

Setahun kemudian, pada 1961, lahir anak pertamanya yang diberi nama Marie Glaire Lintang. Dari Jepang, mereka pindah ke Kamboja. Tahun 1967, lahir anak kedua (laki-laki) di L'Hay-'les Roses, Perancis, dan diberi nama Pierre-Louis Padang Coffin. Dan setelah kelahiran anak keduanya, Dini dan Coffin menetap di Perancis.

Untuk diketahui, saat dewasa, Pierre Coffin akhirnya menjadi seorang animator dan sutradara, yang kemudian melahirkan mahakarya 'The Minions', salah satu tokoh animasi lucu yang diangkat menjadi film kartun Hollywood terlaris sepanjang sejarah. 

Akan tetapi, bahtera rumah tangga Dini dan Coffin harus retak setelah melewati lebih kurang dua dekade atau 20 tahun kebersamaan. Tak mau berlama-lama, setelah menyelesaikan urusan perceraiannya, pada 1980 Dini kembali ke Indonesia namun dalam keadaan menderita kanker. Setelah kesehatannya pulih, ia pun kembali aktif menulis serta membimbing anak-anak di desa Kedung Pani.

Dini memupuk bakat menulis anak-anak dengan membuka pondok bacaan bernama 'Pondok Sekayu' di desa Kedung Pani, Semarang, pada tahun 1986. Namun setelah ia pindah ke Yogyakarta, pondok bacaan tersebut juga ikut pindah pada tahun 2003 di kediamannya, Graha Wredha Mulya 1-A, Yogyakarta. Selain di Yogyakarta, Dini juga memiliki pondok bacaan di Jakarta dan Kupang Timur.

Buah Karya NH Dini

Seperti disalin dari laman Ensiklopedia Sastra Indonesia Kemdikbud, NH Dini pernah mendapat penghargaan SEA Write Award di bidang sastra dari Pemerintah Thailand pada 2003. 

Dini juga banyak dinilai sebagai pengarang sastra prosa Indonesia terkemuka. Salah seorang tokoh yang mengungkapkan hal itu adalah A. Teeuw yang juga menyatakan bahwa novel-novel Dini sangat mengesankan, baik jumlah maupun mutunya. Selain itu, Nh. Dini juga dikenal sebagai pengarang yang secara intens membicarakan masalah perempuan.

Dini juga pernah menulis untuk Majalah KISAH, dan SIASAT. Cerpen pertamanya, 'Pendurhaka', bahkan mendapat kritik positif dari sastrawan senior terkemuka, HB Jassin pada 1951.

Berikut ini sejumlah karya NH Dini, baik yang berbentuk puisi, kumpulan cerita pendek, maupun novel adalah sebagai berikut:

Puisi (1) "Bagi Seorang jang Menerima" (Gadjah Mada, 1954); (2) "Penggalan" (Gadjah Mada, 1954); (3) "Kematian" (Indonesia, 1958); Kumpulan cerita pendek (1) Dua Dunia (NV Nusantara, 1956,), (2) Tuileries (Penerbit Sinar Harapan, 1982), (3) Segi dan Garis (Pustaka Jaya, 1983); Novel (1) Hati jang Damai (NV Nusantara, 1961), (2) Pada Sebuah Kapal (Pustaka Jaya, 1972), (3) La Barka (Pustaka Jaya, 1975), (4) Sebuah Lorong di Kotaku (1976), (5) Namaku Hiroko (Pustaka Jaya, 1977), (6) Padang Ilalang di Belakang Rumah (Pustaka Jaya, 1978), (7) Langit dan Bumi Sahabat Kami (Pustaka Jaya, 1979), (8)Sekayu (Pustaka Jaya, 1981), (9) Kuncup Berseri (Gramedia Pustaka Utama, 1982), (10)Orang-Orang Trans(1985),(11) Pertemuan Dua Hati (Gramedia, 1986) novel ini telah ddiangkat ke layar perak oleh Wim Umboh (12) Keberangkatan (Gramedia, 1987), (13) Jalan Bendungan (Jambatan, 1989), (14) Tirai Menurun (Gramedia, 1993), (15) Tanah Baru, Tanah Air Kedua (Grasindo, 1997), (16) Kemayoran: cerita Kenangan (Gramedia, 2000), (17) Jepun Negerinya Hiroko (Gramedia, Pustaka Utama, 2000), Dari Parangakik ke Kamboja (2003); Biografi Analisis Hamzah: Pangeran dari Negeri Seberang (Gaya Favorit Press, 1981), Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang (novel, 2012).

Saat Terakhir

Ibarat petir di siang bolong, berita duka datang. Sastrawan NH Dini mengembuskan nafas terakhirnya pada Selasa sore, 4 Desember 2018 di usia 82 tahun.

Ibunda Pierre Coffin ini, meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di ruas Jalan Tol Tembalang Kilometer 10, Semarang, Jawa Tengah.

Dini sampai ke UGD Rumah Sakit Elisabeth sudah dalam kondisi tak sadar. Dan ia meninggal dunia tepat pukul 16.00 WIB.

Sebelum tutup usia, NH Dini dikenal sebagai salah satu penulis yang masih eksis berkarya hingga usia senja. Saking produktifnya, penulis Angkatan 66 ini telah melahirkan tak kurang dari 40 judul buku.

Ia bahkan baru saja merilis karya terbarunya berjudul 'Gunung Ungaran: Lerep di Lerengnya, Banyumanik di Kakinya' awal tahun 2018. Siapa sangka novel yang diluncurkan bersamaan momen ulang tahun ke-82 itu menjadi karya terakhirnya. (Foto: Gramedia)

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00