Mengubah Cara Pandang Perbedaan dan Kesenjangan Melalui Pendidikan

Achsanul Qosasi, Anggota Badan pemeriksa Keuangan RI (Tangkap Layar RRINET)

KBRN, Jakarta : Dia adalah auditor keuangan negara yang telah dua kali duduk sebagai anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Bahkan ia juga dikenal luas sebagai Presiden Klub Sepakbola Madura United yang menyukai beragam aktivitas sosial. 

Dialah Achsanul Qosasi, yang kepada RRI coba membeberkan sisi lain yang ada di benaknya selain menjaga keamanan uang negara.

Kedekatannya dengan berbagai kegiatan sosial dalam kapasitasnya sebagai Presiden Klub Madura United itu dikarenakan adanya dasar keinginan untuk tetap menjalankan aktivitas sosial bersama-sama masyarakat kelas bawah. 

"Ada beberapa kegiatan sosial yang saya aktif di dalamnya. Pokoknya kegiatan yang menurut saya memiliki basis massa yang kuat terutama di kalangan bawah karena saya ingin bersama-sama dengan mereka," kata Achsanul dalam program Bincang Khusus Bersama RRI di Jakarta, Minggu (17/5/2020) malam.

Anggota BPK RI, Achsanul Qosasi dalam program Bincang Khusus Bersama RRI (RRINET)

Dalam menjalankan berbagai aktivitas sosial tersebut, sebenarnya ia memiliki tujuan amat sederhana, yaitu ingin memiliki jaringan pertemanan, dan terus meluas hingga sekarang.

"Saya merasa harus lebih banyak teman. Boleh orang tidak suka saya, tapi jangan sampai saya tidak suka sama dia," ujarnya lagi.

Ketika ditanya terkait hubungan aktivitas sosial dengan Yayasan Qudsiyah Bahauddin Mudhary, ia menyatakan bahwa dirinya memang Ketua yayasan Qudsiyah Bahauddin Mudhary. Dan satu hal yang disyukurinya, dari lembaga inilah muncul beragam aktivitas sosial yang diikuti kemajuan pendidikan.

Dan dengan sistem memahami keadaan sosial yang dibarengi kegiatan memajukan pendidikan, akhirnya didapatkan makna satu kesatuan antara kehidupan dan penghidupan.

"Itu (yayasan) untuk kemajuan pendidikan. Jadi kehidupan dan penghidupan harus dijadikan satu, pendidikan itu bagian dari suatu saat penghidupan," terangnya.

Karena menurut Achsanul Qosasi, adanya peran penting pendidikan melalui yayasan yang berdiri sejak awal di Madura itu, dapat mempengaruhi seluruh aspek keragaman sosial dan pandangan-pandangan akan perbedaan antar masyarakat setempat.

"Pendidikan itu lebih kepada penalaran manusia. Kenapa di Madura? Karena menurut saya sekat sosial tinggi, terutama mengubah cara pandang mereka tentang kehidupan. Satu-satunya dengan pendidikan. Orang madura itu paling sulit menerima perbedaan. Yang bisa mengubah itu cuma satu, yakni pendidikan. Itu untuk mengikis masalah ini," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00