Lockdown Wuhan Resmi Dibuka, Orang Tanpa Gejala Tetap Dipantau

KBRN, Beijing : Sebanyak 11 juta jiwa terkurung dalam lockdown total kota Wuhan, provinsi Hubei, Tiongkok, tempat awalnya virus SARS-CoV-2 berawal hingga menjadi epidemi Corona Virus Disease 2019 atau disingkat COVID-19. 

Geliat Kota berusia 3.500 tahun yang menjadi rahim kelahiran Republik Rakyat Tiongkok, harus ditutup. 

Kantor pemerintah dan swasta tutup, semua karyawan diarahkan tinggal di dalam rumah. Sekolah dan universitas tutup, semua murid dan mahasiswa berada di rumah, mengunci diri bersama keluarga masing-masing. 

Transportasi publik dihentikan total seluruhnya. Tak ada lagi kereta cepat, bus kota, taksi, karena semua pekerjanya diliburkan untuk tinggal di rumah.

Seluruh usaha kaki lima, dari penjual mi kuah untuk sarapan di pinggiran jalan kota, pasar tradisional, semuanya tak ada lagi.

Semua kegiatan doa beberapa agama yang ada di Cina serta memiliki pemeluknya di Wuhan harus terhenti. Rumah peribadatan semua agama ditutup.

Tiada lagi langkah kaki mengejar rejeki di jalanan. Tak ada lagi tawa anak kecil berlarian saling mengejar satu sama lain di taman. Tidak ada lagi penjual balon dan es krim yang berteduh di bawah pohon rindang. 

Hanya petugas layanan pengiriman online saja yang nampak hilir mudik melayani kebutuhan warga. Tepat 23 Januari 2020, pukul 10.00 pagi, Wuhan 'mati'. 

Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok masuk ke dalam kota. Mereka diperintahkan melayani distribusi bahan makanan bagi masyarakat. Sebagian lagi diperbantukan menangani para pasien terjangkit Coronavirus di Rumah Sakit setempat.

Namun 8 April 2020, tepat 76 hari sejak 'kematian'-nya, barikade Wuhan resmi dibuka. Wabah Covid-19 telah reda. Rakyat Wuhan perlahan mulai keluar dari rumahnya masing-masing.  

Pada Selasa, 7 April 2020 tengah malam, pihak berwenang mengizinkan penduduk meninggalkan kota untuk pertama kalinya sejak 23 Januari, ketika 11 juta orang pertama kali terkurung dalam lockdown.

Ungkapan Kebahagiaan Mereka yang Selamat dari Wabah

"Rasanya seperti dibebaskan," kata Zhang Kaizhong (51), yang berada di mobilnya di antara deretan kendaraan yang menunggu di jalan raya yang mengarah ke timur Wuhan, menuju provinsi tetangga Jiangsu. 

Zhang datang ke Wuhan untuk mengunjungi putranya sehari sebelum barrier lockdown dibuka. Dia juga belum melihat istrinya selama lebih dari 70 hari. 

"Aku sangat merindukannya," kata Zhang, seperti dilansir TheGuardian, Rabu (7/4/2020).

Akhirnya, matahari kebebasan pertama kota Wuhan terbit pada Rabu, 8 April 2020. Sinar mentari yang semula terasa asing, kini seolah menyapa wajah-wajah yang telah lama tak dilihatnya, yakni the people of Wuhan. 

Warga keluar rumah, bergegas untuk kembali bekerja. Ada yang ingin cepat pulang ke rumah di wilayah lain untuk menghadiri pemakaman hingga mengunjungi sanak keluarga yang menjadi korban keganasan virus Corona sebelumnya. 

"Aku seharusnya kembali lebih awal," kata Lu (36), yang sedang dalam perjalanan kembali ke Shenzhen di selatan tempatnya bekerja. Dia telah tinggal di rumah selama tiga bulan terakhir selama lockdown. 

"Setelah sekian lama, akhirnya melihat Wuhan lagi," katanya antusias.

Tak ketinggalan, untuk mengembalikan semangat warga kota, pemerintah setempat mengemas acara pembukaan kembali kota itu, dengan pertunjukan ringan, kampanye media sosial yang dipimpin oleh media pemerintah, dan acara khusus untuk menandai pembukaan kembali bandara, stasiun dan pabrik.

Wuhan sendiri terkenal di dunia dengan industri baja nomor satu. Kota ini besar berkat perkembangan industri yang terus maju. 

Terminal kereta dan bus didekorasi dengan lampu. Gedung pencakar langit di pusat kota menyala dengan kata-kata penuh semangat, "Halo, Wuhan".

Secara online, pengguna internet memposting hitungan mundur jam hingga tengah malam, sementara beberapa coba membagikan apa yang mereka rasakan selama berlakunya lockdown.

“Prestasi selama kurungan: kehilangan 10kg, membaca dua buku, mencoba potong rambut, tidur delapan jam setiap hari. Tahap selanjutnya: turunkan berat badan lebih, masuk ke pola pikir kembali ke masyarakat,” tulis seorang komentator di situs sosial media visual Weibo.

"Lockdown Wuhan selesai! Melihat kata-kata ini hampir membuat saya ingin menangis," tulis seorang netizen lagi.

"Setelah begitu banyak perjuangan, Wuhan kami telah kembali," demikian postingan berikutnya.

China Eastern mengatakan telah mengoperasikan 30 penerbangan dari Wuhan ke kota-kota lain di Cina, seperti Shanghai, Shenzhen dan Guangzhou, dengan lebih dari 1.600 perjalanan telah dipesan. 

Sementara lebih dari 55.000 penumpang telah memesan tiket untuk meninggalkan kota, menurut operator kereta api. Bus-bus jarak jauh juga memulai kembali layanannya.

Selama beberapa pekan terakhir, kota ini telah secara bertahap melonggarkan pembatasan dengan memungkinkan beberapa warga meninggalkan kompleks perumahan mereka secara terbatas. Bisnis dibuka kembali dan semua penduduk dapat kembali bekerja.

Pada Selasa malam, mobil yang diparkir di sepanjang jalan, yang kosong selama berbulan-bulan mulai dipindahkan pemiliknya. Layanan bus umum di pusat kota juga dibuka kembali, dan penduduk kembali pada kesibukan pagi hari mengerumuni transportasi publik hendak berangkat kerja.

Lockdown Wuhan adalah tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya, namun banyak diikuti kota dan kabupaten di sekitarnya. Strategi ini ternyata memang berhasil membuat virus Corona perlahan memudar di Cina.

Kebijakan ini mendapat kredit bagus karena dinilai memperlambat penyebaran virus karena pemerintah mampu memaksa jarak sosial antara manusia, sehingga bisa membatasi penularan antara provinsi Hubei dengan wilayah lain di Tiongkok.

Menurut angka resmi, lebih dari 2.500 orang di kota itu telah meninggal karena virus Corona. Namun beberapa warga percaya angka sebenarnya kemungkinan lebih tinggi.

"Situasinya tidak sebagus apa yang dilaporkan," kata Yao (41), seorang penduduk di Wuhan.

Wuhan, Bebas Namun Tetap Waspada

Meski telah membuka barikade lockdown, tapi banyak penduduk khawatir tentang jumlah infeksi tanpa gejala saat kota kembali bekerja dalam keramaian manusia seperti dulu.

Oleh karena itu, langkah-langkah lain tetap diberlakukan pemerintah setempat. Mereka juga belum 100% yakin epidemi telah sepenuhnya berakhir. 

Kekhawatiran pemerintah terpancar berdasarkan laporan warga yang mengatakan, kompleks perumahan mereka, setelah penduduk mulai diizinkan pergi, tiba-tiba diperketat lagi penjagaan dan pembatasannya, tanpa memberitahukan alasan jelas.

Perguruan tinggi, sekolah dasar dan menengah, sekolah kejuruan, sekolah tinggi teknik dan sekolah pembibitan masih ditutup. Para pejabat mengatakan dalam sebuah pemberitahuan pada hari Selasa, bahwa tanggal pembukaan akan diputuskan setelah evaluasi upaya pencegahan.

Pihak berwenang masih meminta warga membatasi acara jalan-jalan dan tidak menghadiri pertemuan besar. Banyak kompleks perumahan tetap ditutup, dengan pemeriksaan ketat di gerbang, dijaga oleh petugas keamanan.

Para pejabat mengatakan, pengamanan kompleks perumahan akan terus diperkuat dan merekomendasikan agar penduduk hanya meninggalkan kota atau provinsi bila perlu. Warga juga harus memakai masker saat pergi ke tempat-tempat umum.

“Nol kasus baru itu bukan juga dapat diartikan nol risiko. Membuka gerbang kota tidak berarti membuka pintu ke rumah seseorang,” demikian surat kabar People's Daily dalam tulisan resminya di akun Weibo.

Sumber: Lily Kuo dan Lillian/TheGuardian-Wuhan

Foto: Chine Nouvelle/SIPA & Xinhua/TheGuardian 

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00