Mahasiswa Indonesia "Terjebak" Idul Fitri di Arab Saudi

KBRN, Jakarta : Adanya pandemi COVID-19 yang diikuti dengan penerapan "lockdown" di sejumlah negara, turut dirasakan oleh Warga Negara Indonesia (WNI).

Penerapan "lockdown" di Arab Saudi misalnya, membawa cerita tersendiri bagi para mahasiswa asal Indonesia.

Seperti yang dituturkan oleh Presiden Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Arab Saudi, Muhammad Ridho Sastawijaya.

Mahasiswa jurusan Studi Islam di Universitas King Saud itu menuturkan, menjalankan ibadah puasa di bulan ramadan bahkan hingga merayakan Idul Fitri, merupakan pengalaman pertama bagi sebagian besar mahasiswa Indonesia termasuk dirinya.

"Karena, ketika musim puasa kita akan liburan semester dan kita akan dipulangkan sama kampus untuk liburan di Indonesia. Kita memang menghabiskan idul fitri di Indonesia. Tapi, sekarang benar-benar pengalaman pertama untuk teman-teman. Bahkan, ada yang bilang ini pengalaman pertama puasa di Arab Saudi tapi bablas sekaligus sampai lebaran. Jadi, itu berbeda banget," ungkap Ridho ketika dihubungi RRI melalui sambungan telepon, Sabtu (23/5/2020).

Menurut Ridho, tutupnya aktifitas di Kedutaan Besar RI (KBRI) di Riyadh, juga turut berimbas pada suasana perayaan Idul Fitri yang berbeda tahun ini di tengah pandemi.

"Juga biasanya yang lebaran di sini (Arab Saudi) mereka lebih gabung dengan WNI lain. Tapi, sekarangkan KBRI juga tutup. Jadi, tidak ada kumpul-kumpul silaturahim di KBRI. Jadi, benar-benar di kamar dan asrama masing-masing," tambahnya.

Meski demikian Ridho menyebut untuk menghilangkan rasa rindu akan suasana Idul Fitri di tanah air, ia dan beberapa temannya yang berada di satu asrama yang sama akan menghibur diri dengan memasak makanan khas Indonesia.

"Kita juga mengagendakan masak bareng, kita bikin bareng jadi malamnya (terakhir Ramadan) langsung masak-masak," ujar pemuda asal Jakarta itu.

Dikatakan Ridho, hanya saja ia mengaku masih kebingungan dengan kebijakan pemerintah setempat, terkait penyelenggaraan ibadah shalat Eid di rumah.

"Kita bingung juga ya kita inginnyakan walaupun mahasiswa, inginnya berjamaah. Tapi, keputusan dari kerajaan itu kita tidak boleh kumpul maksimal lebih dari 3 orang. Itu mungkin sih kegalauan kita, apakah kita bisa berjamaah dengan teman-teman yang berjumlah 4 –  5 orang ataukah tetap sendiri-sendiri," terang Ridho lagi.

Sementara, pemerintah Arab Saudi telah menutup masjid-masjid sejak pertengah Maret sebagai upaya memutus mata rantai penularan COVID-19.

Kasus di negera itupun telah mencapai 67 ribu kasus positif COVID-19. Jumlah itupun terbanyak diantara negara-negara Teluk.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00