TAK ADA CARA 100%, UNTUK KITA AMAN, TERHADAP PENULARAN COVID-19, HANYA POLA HIDUP SEHAT, DAN IKUTI HIMBAUAN PEMERINTAH.

KBRN Bintuni. Menyikapi hasil turun lapangan sejumlah Anggota DPRD Kabupaten Teluk Bintuni yang dilakukan di salah satu posko Satgas covid-19 Sp 3 Manimeri kemarin, tentang keterbatasannya alat pelindung diri (APD) yang digunakan para petugas satgas covid-19 yang berada disejumlah titik, terutama di posko Satgas yang berada di SP 3 Manimeri, yang hanya menggunakan alat periksa tekanan suhu termometer biasa serta APD lainnya. juru bicara satgas covid-19 dr. Windo menyampaikan kepada awak media lewat pesan WA bahwa, untuk mengukur suhu tubuh bisa menggunakan air raksa, termometer digital, termo gun. Rabu (25/3).

Dimana alat-alat tersebut sudah efektif sebagai pengukur suhu, dan pemeriksaan suhu badan sudah menjadi prosedur standar yang rutin dilakukan oleh tenaga kesehatan. Ujarnya.

Sampai sejauh ini, Jumlah orang yang diskrining di posko Satgas Covid-19 diantaranya ( bandara  Bintuni, pelabuhan Bintuni, kantor Bupati) mulai tgl 20 - 24 Maret sebanyak 2196 orang, dengan Jumlah orang dalam pengawasan (ODP) sebanyak 1 orang, sedangkan untuk jumlah orang yang diobservasi sebanyak 224 orang. Terangnya.

"Mereka tidak memiliki gejala, tapi datang dari daerah yang sudah terjangkit COVID - 19, dan disarankan untuk isolasi mandiri dirumah". Serta nanti ada petugas puskesmas yang akan mengobservasi mereka pada hari ke 1 dan hari ke 10 terkait gejala seperti demam, batuk, pilek dan sesak napas pada periode 14 hari setelah tiba di Bintuni. tuturnya.

Selain itu, ada lembar formulir  pemantauan yang harus diisi oleh petugas kesehatan di puskesmas untuk observasi mereka dan dilaporkan ke Dinas Kesehatan Teluk Bintuni, terangnya.

Terlepas dari itu, Direktur RSUD Kabupaten Teluk Bintuni, dr Eka Suradji saat di jumpai di posko covid-19 pelabuhan Bintuni, menuturkan untuk alat pelindung diri (APD) sudah tersedia walaupun jumlahnya tidak melimpah, untuk penanganan pasien dalam jumlah terbatas serta waktu terbatas.

APD mulai dari baju kaperoll, masker wajah, sarung tangan, tesmas, sepatu boot, dan itu semua dipakai untuk petugas yang resiko kontaknya tinggi, seperti petugas di rumah sakit, waktu pemeriksaan sample pasien kategori ODP. Sedangkan petugas yang berada di posko Satgas covid-19 menurutnya resikonya cukup rendah, hanya pakai masker wajah, sarung tangan, dan cuci tangan pakai sabun di air yang mengalir.

Sedangkan untuk 1 sampel ODP sendiri menurut dr Eka Suradji, sudah dikirim ke provinsi dan akan dilanjutkan ke Jakarta, mengingat Jayapura sudah memberlakukan look Down melalui darat kemarin. "Selama yang bersangkutan mengisolasi diri dengan baik dari pemantauan tim medis, maka resiko penularan jadi sangat minim, saya sendiri telah mengunjungi pasien ODP ke rumahnya, dan saya lihat cukup baik cara isolasi diri yang dilakukannya" terangnya.

Tambah dokter Eka, sejauh ini yang kita lakukan hanya sebatas meminimalkan resiko penularan serta memaksimalkan pencegahan, tidak ada resiko 0% (aman), walaupun kita menggunakan APD 100%, karena tetap ada resiko penularan. " jadi tidak ada cara yang sebenarnya 100% aman, kita hanya bisa melakukan meminimalkan penularannya", dr Eka pun berharap agar masyarakat sudah waktunya terapkan pola hidup sehat,  tutupnya. 

(Reporter : Wawan).

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00