Dengan Dialog, Pemecatan Tenaga Medis Takkan Terjadi

Tenaga Medis di Ogan Ilir (Dok.Ist)

KBRN, Jakarta: Kasus pemecatan tenaga medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ogan Ilir, Sumatera Selatan seharusnya tidak terjadi jika ke dua pihak memilih jalur komunikasi atau dialog.

Pakar Keperawatan Universitas Indonesia (UI) Agus Setiawan menilai, kejadian itu lebih disebabkan kedua belah pihak tidak mengedepankan pendeketan dialog, dan lebih memilih pada pendekatan hukum.

"Saya belum mendalami lebih jauh tentang kasus itu, jadi belum bisa komentar banyak. Cuma saya lihat di Ogal Ilir ini pendekatan lebih ke pendekatan hukum. Saya yakin kalau diajak dialog, dicarikan solusi, maka tidak akan terjadi seperti itu. Tentu kedua pihak punya argumentasi, kalau tenaga medis pasti ingin memberikan pelayanan tapi juga otoritas menjamin keselamatan.

Kayaknya ada gap antara perawat dengan otoritas setempat, jadi tidak ketemu," ungkap Agus saat dihubungi RRI, Sabtu (23/5/2020).

Karena kata Agus, tentu tenaga medis, salah satunya perawat memiliki tanggungjawab dalam profesinya. Terlebih para tenaga medis sudah melakukan sumpah profesi saat menyelesaikan studi.

"Coba lebih ke pendekatan dialog, edukasi. Jadi perawat kan juga punya kewajiban yang telah disumpah sejak mereka tamat, bahwa dia harus memberikan pelayanan kesehatan dalam kondisi apapun sesuai kemampuannya," ujarnya. 

Agus mencontohkan, kasus yang sama juga pernah terjadi di Hongkong pada tahun 2009.

Namun karena otoritas setempat menggunakan dialog, situasi pun bisa terselesaikan.

"Keadaan dimana perawat itu menolak untuk kerja itu pernah terjadi dulu waktu wabah flu di Hongkong. Itu lebih 80 persen perawat tidak mau bekerja karena takut tertular dan takut melularkan. Sangat mematikan kalau tidak salah sekitar tahun 2009. Dengan pendekatan dialog, jadi akhirnya waktu itu bisa teratasi juga," pungkasnya.

Sementara itu Ketua Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia (DPP PPNI) Harif Fadillah berharap, di tengah masa pandemi COVID-19, para perawat tetap memiliki semangat juang dalam memberikan pelayanan yang maksimal. 

"Saya berharap tetap pada semangat juang kita untuk melayani pasien covid ini. Jadi saya juga kalau benar terjadi perawat tidak melayani pasien covid itu juga tidak benar. Bagaimanapun kondisinya dia harus melayani, tetapi para penyedia layanan harus juga menjamin keselamatannya, kalau APD nya ada ya harus melayani. Kalau APD tidak ada, bagaimana harus melayani, aspek keselamatan kan nomor satu," ujarnya.

Menurutnya, ketersediaan APD juga harus diperhitungkan dengan baik oleh pemerintah, dimana dalam hal ini adalah para pimpinan rumah sakit.

"Memang APD ini kecukupan itu tentatif ya, cukup itu untuk beberapa hari. Saya tidak tahu di Pelembang meningkat atau tidak kasusnya, kalau meningkat persediaanya harus menjamin ketersediaannya, tinggal bagaimana komunikasinya aja, saya kira ini lebih ke persoalan komunikasi," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00