Vaksin COVID-19 Dibuat Sesuai Karakteristik Virus di Indonesia

KBRN, Jakarta: Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman menyatakan bahwa meski membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuat suatu vaksin (obat), namun pihaknya menargetkan mampu membuat bibit vaksin terkait virus Corona (COVID-19) di Indonesia selama 12 bulan.

"Dalam keadaan normal, membuat suatu vaksin itu bisa 5 sampai 10 tahun lebih. Kami di Eijkman, ditargetkan dalam waktu 12 bulan (maksimum) bisa membuat bibit vaksin," kata Kepala LBM Eijkman, Prof Amin Soebandrio, melalui sambungan teleponnya saat berdialog bersama Pro-3 RRI, Jakarta (23/5/2020).

Lebih lanjut, Ia menuturkan bahwa dalam membentuk suatu vaksin yang ditujukan untuk penanganan virus Corona itu, pihaknya saat ini tengah melakukan pengumpulan hasil whole genome sequence (WGS), untuk melakukan pengujian terlebih dahulu ke sekuens sebagai pengujian dasar terhadap vaksin tersebut.

Sebab, lebih lanjut Kepala LBM Eijkman Amin menjelaskan bahwa tujuan pengetesan vaksin tersebut ditujukan untuk mencari kesesuaian perkembangan penyebaran wabah virus Corona di Indonesia.

"Sekarang kita sedang mengumpulkan lebih banyak lagi wholegen uji sekuensnya, untuk dipakai sebagai dasar pembuatan vaksin. Makanya kita harus betul-betul mengidentifikasi virus yang bersikulasi di indonesia itu kelompok yang mana aja, hingga nanti kita bisa memilih anti Gennya yang paling mewakili semua kelompok yang ada di indonesia," jelasnya.

Hal tersebut diungkapkan Amin, dikarena dari perkembangan hasil penelitian pihaknya, adanya kelompok virus Corona yang menyebar di Indonesia, sebagian besar merupakan diluar kelompok virus Corona yang ada di negara-negara lain yang mengalami wabah pandemi COVID-19.

Sehingga menurutnya, meski telah ditemukannya vaksin untuk virus Corona yang dibuat oleh negara-negara lain, belum tentu dapat sesuai dengan karakteristik virus Corona yang ada di Indonesia. 

"Ternyata dari mutasi-mutasi yang terjadi, kelompok virus yang dari Indonesia itu sebagian ada yuang diluar kelompok-kelompok yang ada di luar negeri. Belum tentu kita bisa memakai vaksi yang dibuat oleh negara lain," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00