Cegah Aksi Buas Buaya Berkalung Ban, Operasi Sementara Dihentikan

KBRN, Palu : Sekitar dua pekan Operasi penyelamatan Buaya Berkalung Ban yang hidup di Muara Palu telah dilakukan, dan bahkan sejumlah pihak ikut terlibat dalam Operasi Penyelamatan Hewan Reptil dengan panjang sekitar 5 M tersebut, diantaranya Matt Wright dan Chris Wilson yang merupakan pemerhati buaya dari Australia, namun sepekan kedua pemerhati Buaya tersebut bergabung juga belum membuahkan hasil memuaskan karena hingga keduanya kembali ke Negara asalnya Buaya muara tersebut belum juga lepas dari jeratan Ban yang telah melingkar dileher buaya sekitar 3 Tahun lebih. Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Sulawesi Tengah Haruna, Selasa (18/02/2020) mengatakan ramainya masyarakat yang ingin menyaksikan langsung proses penyelamatan serta masih banyaknya pasokan makanan disekitar muara dan Pantai tempat buaya tersebut tinggal, membuat Tim kesulitan untuk menangkap, bahkan sejumlah upaya telah dilakukan diantaranya pemasangan perangkap di titik yang diketahui menjadi tempat Favorit Buaya Berkalung Ban berjemur namun hingga berita ini diturunkan tak sekalipun Buaya Berkalunv Ban datang untuk memangsa umpan yang dipasang dalam perangkap, bahkan jelas Haruna satu dari dua perangkap yang dipasang justru menangkap buaya yang bukan menjadi target.

"Kita pasang dua perangkap, satu di jembatan dua yang memang kita tahu disana sering dia (buaya-red) muncul, satu di muara, tapi yang di Muara kita ambil, karena ternyata yang masuk buaya lain. Jadi daripada nanti itu jadi kerjaan lebih baik satu saja perangkap yang kita pasang." Terang Haruna.

Selain perangkap, Tim Operasi jelas Haruna juga sudah mencoba menggunakan Jaring dan Harpun namun usaha tersebut juga gagal menangkap buaya berkalung ban.

"Kita kemarin sama Matt coba pakai Harpun, pas kita lihat dan kita coba cuma kena depe kulit jadi gagal juga." Jelasnya.

Setelah dua pekan dilakukan operasi saat ini upaya penyelamatan Buaya Berkalung Ban dihentikan sementara, namun kegiatan pemantauan jelas Haruna tetap dilakukan, sehingga diharapkan dengan adanya masa istrahat tersebut masyarakat yang ramai menyaksikan upaya Tim Operasi juga dapat berkurang.

"iya, ini kan sudah dua minggu, kami khawatir dengan intensnya kita melakukan upaya penyelamatan dan banyaknya orang itu buaya berkalung ban jadi stress dan buas, tidak cuma B3 (Buaya berkalung ban-red) itu saja tapi buaya lainnya juga pasti akan merasa terganggu. Jadi takutnya ada yang diserang, karena ini kan satwa liar kalau dia merasa terganggu dia juga jadi buas. Makanya ini kita recovery dulu B3 sama petugas juga, tapi kita tetap pantau." Jelas Haruna.

Sementara terkait dengan masih banyaknya pihak yang ingin terlibat dalam upaya penyelamatan Buaya Berkalung Ban, Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Haruna mengakui hingga saat ini pihaknya menerima tawaran bantuan, namun pihaknya tidak dapat memberikan ijin terutama bagi pihak yang tidak memiliki surat keterangan keahlian terkait penanganan Buaya. Lebih lanjut Haruna menjelaskan selain merupakan petunjuk Kepala BKSDA Sulawesi Tengah Hasmuni Hasmar, hal ini dilakukan untuk mencegah adanya korban saat penanganan buaya berkalung ban.

Ditegaskan BKSDA Sulawesi Tengah bersama pihak terkait akan berupaya menyelamatkan buaya berkalung ban, mengingat kondisi buaya yang memprihatinkan karena ban semakin menghimpit bagian leher reptil besar tersebut. NS

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00