Waketum Gerindra: Jokowi Perlu "Kocok" Ulang Koalisi

KBRN, Jakarta: Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) diharapkan mempertimbangkan "kocok" ulang koalisi partai pendukungnya. Hal itu menyusul pernyataan yang disampaikan oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arsul Sani terkait skema pelatihan program Kartu Prakerja.

Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Gerindra Arief Poyuono angkat bicara tentang pernyataan Arsul yang menyatakan bahwa skema pelatihan Kartu Prakerja berpotensi menjadi kasus hukum setelah masa pemerintahan saat ini berakhir, atau setelah tahun 2024 nanti. Menurut Arief, skema pelatihan Kartu Prakerja tak akan menjadi kasus hukum di kemudian hari karena memang tak ada persoalan di dalamnya.

"Tidak ada kasus hukum di masa yang akan datang terkait pengunaan anggaran Rp5.6 triliun seperti yang dikatakan Sekjen PPP Arsul Sani, menilai skema pelaksanaan program Kartu Prakerja yang memberikan keuntungan kepada perusahaan penyediaan layanan pelatihan online berpotensi memunculkan kasus hukum di kemudian hari," tegasnya sebagaimana siaran pers yang diterima rri.co.id, Rabu (20/5/2020).

Lebih lanjut kata Arief, pelatihan online gratis di situs prakerja.org tidak bisa jadi jurispendensi untuk mengatakan kalau program-program pelatihan di Kartu Prakerja itu telah merugikan negara.

"Wong prakerja.org itu dibuat sebagai bentuk protes saja kok terkait program kartu Prakerja nya Jokowi. Saya sudah lihat fitur-fitur pelatihan gratis di prakerja.org biasa biasa saja dan sepertinya boleh copy paste saja dari program-program bisnis MLM dari youtube," ujarnya.

Dia pun mempertanyakan keberadaan situs prakerja.org yang baru muncul setelah Program Kartu Prakerja sudah mulai berjalan.

"Lah kok prakerja.org baru nongol setelah lihat program Kartu Prakerja-nya Joko Widodo engga dari jauh jauh hari protes turun ke jalan ke Jokowi ya. Sekarang baru ribut setelah masyarakat sudah banyak menikmati program Kartu Prakerja yang bisa membantu meringankan ekonomi mereka di saat Covid-19," ketusnya.

Selanjutnya :

Halaman 1 dari 2

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00