Kopi Batirai Cap Jempol, Otentik Rasa dan Aroma Hasil Penggilingan Tradisional

KBRN, Bukittinggi : Tangan Syawaluddin (62) seperti gerakan mesin yang terprogram. Sesekali gerakannya melambat, namun ada kalanya berubah cepat, memutar wadah kaleng terbuat dari plat besi, berisi green bean (biji kopi hijau).

Green bean yang digunakan adalah dari jenis Robusta, sebanyak 20 kilogram, disangrai secara manual di atas bara api. Syawaluddin seakan bisa merasakan tingkat kematangan kopi yang sedang dipanggang.

Roaster tradisional itu kemudian berlanjut, Syawaluddin menambah kayu api yang awalnya sedang, menjadi agak banyak. Sekarang api dan asap seakan menyatu dalam asap pekat yang mengepul dengan aroma wangi kopi. 

Setelah hampir satu setengah jam, Syawaluddin menghentikan putaran kaleng. Dia mengangkat kaleng berisi biji kopi dan menyerbarkannya ke lantai untuk didinginkan. Benar saja, kopi itu berubah menjadi kecoklatan.

Kopi yang sudah didinginkan kemudian ditampih oleh Daslim Mulyadi (49), pemilik usaha kopi yang turun tangan mengurai kulit ari sembari memilah biji kopi. Sesaat kemudian, biji kopi kecoklatan itu dilebur menjadi bubuk kopi menggunakan mesin bertenaga diesel.

Daslim menuturkan, kualitas dan rasa kopi turut ditentukan dari proses sangrai.

"Tehnik memutar kaleng penyangrai, pengaturan api menggunakan kayu bakar, menentukan nikmat tidaknya rasa kopi ini," ungkap Daslim kepada RRI, Rabu (19/2/2020).

100 kg biji kopi hijau setiap Senin, Selasa dan Sabtu, dipanaskan secara tradisional di dapur berukuran 3 x 4,5 meter yang terletak di salah satu gang kecil, RT II, Kelurahan Tanah Hitam.

BACA JUGA: Berteman Dingin, Menyantap Semangkok Soto Bofet Telaga Biru

Biji kopi hijau alias green bean didapatkan dari Nagari Pincuran Tujuah Gunuang Rajo, Kabupaten Tanah Datar. Dan proses penyangraian memakan waktu rata-rata satu setengah jam per 20 kilogram (kg).

Mamak dan kemenakan itu mulai melaksanakan aktivitasnya dari pukul 06.00 WIB hingga 13.30 WIB.

"Saya dan mamak menyangrai biji kopi itu per 20 kilogram," ungkap Daslim. 

Batirai Cap Jempol, Proses Tradisional Kelas Nasional

Daslim dan keluarganya merintis usaha kopi sejak tahun 1996 silam. Dia menamai usahanya "Batirai Cap Jempol". Kata Batirai diambilnya dari nama sebuah goa di daerah Sungai Andok, Kelurahan Tanah Hitam.

"Nama Batirai ini unik, sekaligus promosi wisata juga," kata Daslim.

Harga Kopi bubuk ia patok Rp 60.000/Kg. "Batirai Cap Jempol" juga dikemas dalam bentuk sachet seharga Rp 5000. Dan pemesanan bisa lewat HP 0852-6352-1648.

Bubuk kopi dia pasarkan ke Pasar Pusat Padang Panjang dan sejumlah daerah lainnya. Beruntung Daslim memiliki sertifikat halal yang dibantu pengurusannya oleh Dinas Pedagangan Koperasi dan UKM Kota Padang Panjang.

'Batirai Cap Jempol' juga dibantu didaftarkan ke BPOM serta Dinas Kesehatan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) setempat. Dengan begitu, keyakinan pasar akan produk kopi Daslim sangat tinggi.

Daslim mengutarakan, ada satu keinginan yang terbesit dalam hatinya, untuk sedikit memodernkan tehnik penyangraian kopi, ingin rasanya ia beralih menggunakan mesin dinamo.

Kendati begitu, biji kopi hijau tetap dipanggang dengan bahan bakar kayu. Dia meyakini, lewat bahan bakar kayu akan mengeluarkan aroma dan rasa otentik dari kopi produksinya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00