18 Kasus Kematian Positif Covid-19 Di Jateng, Ini Penjelasan Ganjar

KBRN, Semarang : Dari 18 pasien positif COVID-19 di Jawa Tengah yang meninggal, hanya empat yang berusia di bawah 50 tahun. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo membeberkan sebagian besar dari mereka yang meninggal telah memiliki penyakit bawaan.

"Kalau dari catatan medis yang dilaporkan ke saya secara lisan mereka punya penyakit bawaan. Di rumah sakit lengkap laporannya," kata Ganjar, Jumat (3/4). 

Kebanyakan dari mereka, kata Ganjar, juga memiliki riwayat perjalanan dari daerah episentrum di Indonesia maupun luar negeri. 

"Ada banyak yang kejadian, misalnya mereka datang dari luar negeri di sana sudah sakit terus dibawa ke sini terus meninggal. Itu contoh saja," katanya. 

Per 3 April, di Jawa Tengah telah terjadi 114 kasus Positif COVID-19. Dengan rincian, 85 masih dalam perawatan, 11 sembuh dan 18 telah meninggal. Dari 18 yang meninggal itu, hanya empat orang yang berusia di bawah 50 tahun. 

Ganjar menyebutkan, pada 8 maret ada dua kasus meninggal. Yakni satu perempuan berusia 59 tahun dan lelaki berusia 60 tahun. Kemudian 13 Maret perempuan 44 tahun. Pada 21 Maret laki-laki usia 77 tahun, 25 Maret laki-laki usia 22 tahun, 28 Maret laki-laki usia 65 tahun, 29 Maret laki-laki usia 70 tahun, dan 31 Maret laki-laki usia 62 tahun. 

Selanjutnya pada 1 April ada tujuh yang meninggal. Yakni lima laki-laki usia 64, 69, dan 45, 56, dan 43 tahun serta dua perempuan usia 67 dan 72 tahun. Terakhir pada 2 April ada dua laki-laki meninggal usia 64 tahun dan 73 tahun. 

Pada 2 April juga ada satu lagi yang meninggal. Data di Dinkes Jateng masih berstatus PDP dengan hasil tes yang belum diterima. "Tapi kemungkinan besar positif," kata Ganjar. 

Berdasar data laporan tersebut Ganjar mengatakan, siaran pers Pemerintah Pusat pada 3 April yang menyebut kasus meninggal di Jawa Tengah bertambah 11 orang bersifat akumulatif. 

"Bukan hari ini meninggal sebelas. Itu akumulasi sejak pertama sama yang kemarin. Sehingga kita yang sejak pertama mencatat, tiba-tiba ada angka sebelas yang dimasukkan. Kita juga kaget tadi membacanya. Maka setelah di clearance tidak ada. Itu akumulatif," katanya. 

Ganjar juga menegaskan selaku menerima laporan real-time dari jajarannya ketika ada penambahan kasus. Tapi khusus untuk kasus pasien positif COVID-19 yang meninggal, Ganjar menyampaikan pihak rumah sakit mesti melakukan clearance terlebih dahulu. 

"Kalau kita sudah ada datanya. Pusat baru menginformasikan ini. Karena setiap ada yang meninggal mereka (rumah sakit) clearance dulu baru dilaporkan ke kita. Maka seringkali laporannya terlambat. Tidak otomatis ketika ada yang meninggal laporannya langsung masuk ke kita," tandasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00